Langsung ke konten utama

KEBEBASAN YANG TIDAK BEBAS

(Memaknai Falsafah Kebebasan Sejati)

Latar Belakang 

Problem kebebasan selalu disalah artikan oleh sebagian besar manusia. Bebas dalam pandangan mereka adalah bebas dari keteraturan, bebas berjalan memas memiliki, bebas beragama, bebas beribadah atau tidak, dan itulah arti kebebasan menurut kita selama ini. Yang menjadi pertanyaan adalah, “mengapa setelah “kebebasan itu didapatkan, kita masih merasa tidak bebas dan terkekang ?” sebenarnya apakah arti kebebasan ? mengapa kebebasan selalu erat dengan keterikatan ? 

Berbicara mengenai realita sosial, dikenal istilah “Seks Bebas” mungkin ini adalah sebuah kalimat yang mengandung ideologi khusus. Sebab kenapa dinamakan seks bebas ? padahal setelah mendapatkan hal tersebut toh, ternyata para PSK masih mencari pelanggan lain untuk melaksanakan seks bebas itu. Kalau sudah bebas, mengapa harus mencari kebebasan lain ? Adapula sebagian orang lain yang “Kaya” mengatakan bahwa kekayaan mengantarkan pada kebebasan, kalau kata orang suku Batak “Hepeng Nang Mangatur Nagaraon”. Tapi mengapa setelah bebas menggunakan harta, seseorang masih mencari kebebasan-kebebasan yang lain ? ada apa dengan kebebasan yang selama ini difahami sebagian besar manusia ? dan apa sebenarnya kebebasan itu ? 

Defenisi kebebasan

Membahas mengenai kebebasan sangat erat kaitannya dengan defenisi dari kebebasan itu sendiri. Membincang defenisi maka alangkah bijaknya jika dirujuk ungkapan Al-Attas : Kebebasan yang mengikut pandangan islam, merupakan kebebasan diri ruhani, dan dari itu berarti kebebasan merupakan pemulihan serta dan penyaksian diri akan hakikat semulajadinya, gerak daya yang digelar bebas itu adalah gerak daya yang menyerahkan diri jasmani nescaya tunduk ta’luk kepada diri ruhani dengan cara mematuhi undang-undang, serta ketentuan akhlakiyah yang ditentukan agama, dan bukan sebaliknya seperti yang dikatakan Barat.(Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, h.82).

Berdasarkan defenisi diatas, setidaknya dapat disimpulkan bahwa, kebebasan adalah suatu keadaan yang akan dialami manusia ketika ia kembali kepada fithrahnya, fitrahnya sebagai seorang muslim (Kullu Mawluudin Yuuladu ‘Ala al-Fithrah), dan kembali pada sumpah setianya (Alastu Birobbikum ? Qooluuu Balaaa Syahidnaa). Kembali memegang teguh persaksian bahwa ia adalah hamba Allah Swt,. Artinya, segala sesuatu yang menjauhkan nya dari Allah, atau menggoyahkan prinsip untuk memegang sumpah setia kepada Allah, meskipun itu “Dinamakan Kebebasan” namun pada hakikatnya itu adalah “KETERIKATAN” dan selama itu pula manusia akan terus mencari kebebasan tanpa ada rasa puas dan cukup, ya… sebab semakin banyak ia melakukan kebebasan semu itu, maka semakin erat keterikatannya pada godaan “Kebebasan yang Materialistik”. Maka sangat disayangkan, banyak orang yang menghujat materialism, padahal hidupnya selalu dikungkung oleh materialistic yang bertopeng “Kebebasan”. 

Demikian juga dengan kaum kafir, ketika ia merasa mendapat kebebasan selain islam, maka ada hakikatnya ia sedang terikat, terikat oleh sesembahan yang material. Mungkin ini juga bisa dikaitkan dengan perkataan Syaikh Nawawi Banten “Wajib bagi setiap mukallaf, masuk islam dan mengamalkan hal-hal yang diperintahkan dalam agama”. Tujuannya adalah untuk membebaskan jiwa manusia dengan kebebasan yang sesungguhnya. Bukan kebebasan versi materialis. 

Ada Apa Dengan Kaum Shufi ? 

Saya teringat dengan perkataan Guru saya, “Hati orang-orang yang merdeka itu adalah tempat tersimpannya berbagai rahasia”. Maka jika kita kembali kepada ajaran tasawuf, yang diamalkan oleh apra sufi, maka akan ditemukan ajaran maqomat. Yakni Zuhud (tidak bergantung pada harta dunia) Taubat, Wara’, Tawakkal dan Ridha. Nah ketika manusia sudah menjalani tahapan-tahaan tersebut, maka ia akan mencapai kebebasan sebab telah mengembalikan jiwanya kepada fithrah (takluk dan menghamba dengan sebenar-benarnya kepada alla Swt). Maka tidak heran ketika Zunnun Al-Mishri diberi sebongkah permata dari Raja, namun ia tidak mau menerimanya, sebab hal itu dapat mengikatnya dengan materi yang merusak kebebasan. Demikian juga dengan seorang shufi yang makan buah anggur namun dicampur dengan garam, supaya ia tidak terikat dengan manisnya rasa buah anggur. 

Kesimpulan

Akhirnya, untuk menutup tulisan singkat ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan. Bahwa kita sebagai manusia jika ingin merasakan kebebasan, maka jangan terpikat dengan materialistik. Pada dasarnya setiap sufi (orang orang yang hatinya merdeka) selalu dalam keadaa zuhud dan sederhana, meskipun dari sebagian kalangan sufi ada yang kaya, namun kekayaan itu hanya ditangannya saja, tidak sampai mengganggu hatinya, sehingga pentasharrufan harta itupun sesuai tuntunan syari’at. Lalu bagaimana dengan kita yang memiliki kekayaan, istri cantik, anak banyak, apakha harus dilepaskan ? tidak, solusinya, bagaimana kita mengarahkan semua nikmat itu untuk menggapai kerida’an Allah, dan menjadikan nikmat sebagai media untuk menggapai kemerdekaan dan kebebasan yang sejati. Wallau A’lam. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...