Berapa banyak orang berburu "permata" demi hidup bahagia
Padahal itu hanya sebuah “permata” Yang tak sedikitpun
mampu mewakili kebahagiaan yang sesunggunya!
Pendahuluan
Hidup dan kehidupan selalu diisi dengan problematika berwajah ganda, kadang ia tampak seperti intan permata yang indah dan berharga, namun dibalik permata itu tersimpan beribu syubhat yang tak dapat dilihat oleh mata. Adakalanya setumpuk kerikil dihutan yang gelap, tak dapat dilihat dengan panca indera namun bisa menjadi teman dan senjata tatkala marabahaya menerpa. Disinilah kita sering tertipu, siapa yang mau melempar permata meskipun ia penuh syubhat yang menghina ? namun ada jutaan manusia yang membuang kerikil tanpa mengira, bahwa ia itu adalah harta yang berharga.
Begitulah realita kehidupan, jika tidak diarahkan dengan tuntunan. Maka akan terus terjebak dan terjerumus dalam lubang kenistaan yang menghantarkan pada kebinasaan. Namun demikianlah pandangan mata, sarat akan tipu daya, dan banyak yang merasa nyaman dengannya. Namun, apakah kebahagiaan bisa didapatkan dengan bermodal tipuan fatamorgama ? inilah yang akan dibahas dalam edisi kali ini. Apapun isinya, mudah mudahan dapat menjadi manfaat bagi pembaca.
Defenisi Kebahagiaan
Kebahagiaan dalam islam, tercakup dalam kalimat as-Sa’adah. Kalimat ini mengandung dua unsur, yakni kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Dimana keduanya tidak pernah terlepas dan saling berkesesuaian satu sama lainnya. Lawan dari kalimat sa’adah adalah al-Saqawah, yang berarti kecelakaan yang besar. Kebahagiaan merupakan tujuan akhir yang akan didapatkan oleh orang-orang yang kehidupan dunianya menyerahkan diri kepada Allah dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang dengan penuh kesadaran dan pengetahuan. Inilah yang membuktikan bahwa ada pertalian erat antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sebab dunia diciptakan Allah untuk berupaya menggapai kehidupan sejati yang diliputi kebahagiaan. Disinilah kebanyakan manusia mengalami kerugian, karena salah dalam memaknai kebahagiaan, sehingga terjerumus dalam jurang Saqawah. mungkin ada baiknya jika diayati sajak Syed M.Naquib Al-Attas berikut ini:
[Tempat Terindah]
Wahai Gembara--Kau,
Nan Luas telah merantau,
Memikat puspa nan mekar,
Melihat seribu kawthar,
Sebanyak negeri kau singgah,
Dimana tempat terindah?
.....
Merefleksikan pesan dalam sajak diatas, agaknya penulis telah mendapat banyak pengalaman, kesenangan, dan berbagai hal lain yang memikat pandangan mata, namun mengapa masi ada pertanyaan “Dimana Tempat Terindah?”. Maka bait berikutnya menjadi jawaban :
.....
Denganmu walau di hutan rimba,
Di padang pasir panas menyala,
Laksana Firdaus nikmat kuanggap,
Ketebing Kawthar jasad menyayap,
Gelap hidupku dalam penjara,
Asalkan kau disitu ada,
Menjadi taman peri wajahmu,
Semerbak mawar mekaran baru.
(Syed M.Naquib Al-Attas)
Agama dan Kebahagiaan
Kestabilan hidup di dunia dan akhirat akan diperoleh jika dipandu dengan wahyu sebagai ukuran kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa siapapun yang mengklaim kebenaran jika melawan aturan wahyu maka kebenaran itu tidak lain hanya tipuan terselubung. Inilah fungsi agama diturunkan untuk umat manusia melalui pengutusan para Rasul. Makna agama sendiri bukan hanya sebatas aturan untuk beribadah yang orientasinya adalah kehidupan akhirat. Namun agama atau al-diin ternyata mencakupi berbagai aspek kehidupan manusia dan seluruh makhluk di alam semesta. Seluruh konsep agama yang dinamakan islam ini yang kemudian diturunkan dengan tujuan menyadarkan manusia akan hakikat kehidupan, yakni untuk menyadari dengan hati yang lapang bahwa dahulu ia pernah mengucapkan janji (al-Mithaq) ketika ditiupkan ruh kepada jasad saat didalam rahim. Agamalah sebagai pembimbingnya untuk tetap memelihara keimanan dan perjanjina tersebut sampai ruh itu kembali meninggalkan jasad, mempertanggung jawabkan perbuatannya diadapan Allah Swt,. Itulah kenapa nama agama, yakni Islam selain dari makna yang difahami umum sebagai suatu kata kerja dan juga kata nama untuk perbuatan. Sehingga dapat diperoleh makna agama itu ialah : “Penyerahan diri dengan sukarela kepada Allah Swt,”. Oleh sebab itu, orang yang beragama pasti akan merasakan kebahagiaan dan kelapangan hati, selain ia memiliki agama yang merupakan fitrah manusia, ia juga akan dilindungi dan dijaga dengan keluasan nikmat dan rahmat Allah Swt,.
Kebahagiaan Dan Kebebasan
Membahas mengenai kebebasan sangat erat kaitannya dengan defenisi dari kebebasan itu sendiri. Membincang defenisi maka alangkah bijaknya jika dirujuk ungkapan Al-Attas : Kebebasan yang mengikut pandangan islam, merupakan kebebasan diri ruhani, dan dari itu berarti kebebasan merupakan pemulihan serta dan penyaksian diri akan hakikat semulajadinya, gerak daya yang digelar bebas itu adalah gerak daya yang menyerahkan diri jasmani nescaya tunduk ta’luk kepada diri ruhani dengan cara mematuhi undang-undang, serta ketentuan akhlakiyah yang ditentukan agama, dan bukan sebaliknya seperti yang dikatakan Barat.(Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, h.82).
Berdasarkan defenisi diatas, setidaknya dapat disimpulkan bahwa, kebebasan adalah suatu keadaan yang akan dialami manusia ketika ia kembali kepada fithrahnya, fitrahnya sebagai seorang muslim (Kullu Mawluudin Yuuladu ‘Ala al-Fithrah), dan kembali pada sumpah setianya (Alastu Birobbikum ? Qooluuu Balaaa Syahidnaa). Kembali memegang teguh persaksian bahwa ia adalah hamba Allah Swt,. Artinya, segala sesuatu yang menjauhkan nya dari Allah, atau menggoyahkan prinsip untuk memegang sumpah setia kepada Allah, meskipun itu “Dinamakan Kebebasan” namun pada hakikatnya itu adalah “KETERIKATAN” dan selama itu pula manusia akan terus mencari kebebasan tanpa ada rasa puas dan cukup, ya… sebab semakin banyak ia menikmati kebebasan semu itu, maka semakin erat keterikatannya pada godaan “Kebebasan yang Materialistik”. Maka sangat disayangkan, banyak orang yang menghujat materialism, padahal hidupnya selalu dikungkung oleh pola materialis yang bertopeng “Kebebasan”. Mungkin inilah salah satu maksud perkataan Imam Abul Hasan Asy-Syadzili “Ya Allah jadikanlah dunia ditanganku, namun jangan jadikan dunia dihatiku”.
Akhirnya, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa orang yang akan mendapatkan kebahagiaan didunia dan akhirat adalah orang-orang yang hidupnya bebas tanpa kekangan dan keterikatan dengan unsur apapun. Dan dengan kebebasan itulah seseorang akan mendapatkan sakinah, dan nikmat beragama sesunguhnya, yang kemudian disebut dengan kebahagiaan. Wallahu A’lam.

Komentar
Posting Komentar