Langsung ke konten utama

HUMANISME DALAM PERBINCANGAN


Humanism menurut oxford dictionary adalah “A rationalist outlook or system of thought attaching prime importance to human rather than divine or supernatural matters”. Secara umum, kata humanism terdiri dari dua suku kata, Human (Manusia) dan Isme (ideology). Secara istilah, humanisme memiliki beberapa defenisi yakni :”(1) Aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik; (2) paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting; (3) aliran zaman Renaissance yang menjadikan sastra klasik (dalam bahasa Latin dan Yunani) sebagai dasar seluruh peradaban manusia. Berdasarkan defenisi diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa humanism adalah ideology yang menjadikan manusia sebagai ukuran utama dalam berbagai aspek kehidupan. 

Jika bertolak pada sejarah, maka dapat ditemukan beberapa untaian sejarah yang menyebabkan munculnya ideology humanism di Barat. gerakan humanism awal adalah gerakan yang menuntut manusia untuk berfikir ulang dan terlepas dari dogma-dogma agamis. Dogma agamis dalam kajian ini ialah doktrin yang dikeluarkan oleh gereja sebagai satu-satunya lembaga otoritatif yang berhak menentukan hidup dan kehidupan masyarakat Barat kala itu. Mereka merasa bahwa campur tangan gereja sudah menghalangi hak dan kebebasan mereka dalam menjalani hidup. Sejak periode awal, masyarakat Barat menerima mentah menta tafsiran gereja tentang Bible, namun setelah pengetahuan mereka mencukupi dan menganggap itu bisa menggantikan kebutuhan terhadap agama, maka upaya menghilangkan otoritas gereja dilakukan secara berkesinambungan. Al-hasil, lahirlah kebebasan dimana ukuran kebenaran dan acuan segala sesuatu adalah individu dan manusia itu sendiri. 

Sampai disini sudah mulai terlihat setidaknya tiga ideology yang saling berkaitan, (1) liberalism, dimana masyarakat menuntut kebebasan dari otoritas gereja. (2) Humanisme, manusia menjadi ukuran utama dalam segala sesuatu. (3) karena manusia sudah menjadi ukuran segala sesuatu, maka muncullah ideology relativisme (tidak ada kebenaran absolute). Ketika Nietzche mengatakan bahwa “Tuhan Telah Mati”, maka saat itulah kebenaran mutlak hilang dari peredaran dunia Barat. alhasil, karena kebenaran hanya ada dua, yakni kebenaran mutlak dan kebenaran relative, maka yang tersisa hanya kebenaran relative. 

Humanism ternyata seumur dengan peradaban Barat. istilah humanism muncul pada taun 1808 di Italia dengan sebutan Umanista. Semangat mengkaji filsafat, seni, dan sastra klasik sangat tinggi. Inilah yang menyebabkan keyakinan mereka terhadap kemampuan individu semakin menguat. Keyakinan tersebut terus berlanjut sampai pada taraf kemampuan menentukan kebenaran. Tokoh yang pertama kali membincang masalah ini adalah Kardinal Pelagius (354-420). Ialah yang mulai berwacana bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk berkemabang sendiri tanpa Tuhan. Dan bisa mengetahui baik dan buruk cukup dengan akalnya semata. 

Perkumpulan humanis bernama the british humanist association tidak lagi memakai sifat religious. Hal ini berujung pada pengakuan bahwa manusia bukan lagi sebagai makhluk Tuhan, tapi merupakan hasil evolusi. Tidak ada kehidupan sesuda mati. Prinsip hidup humanis sangat simple, makan, minum, dan kawinlah sepuasnya karena besok bisa jadi akan mati. Lakukanlah apa saja, seks, homo, lesbi, kawin cerai, bunuh diri, aborsi, euthanasia, dan semua itu adalah hak asasi manusia, dan tidak ada yang berhak mencampuri urusan pribadi manusia. 

Lalu apakah Barat dapat dikatakan maju dengan menjunjung humanism ? secara fisik memang dapat dilihat bahwa Barat merupakan negara yang bersih, dan teratur, namun semua itu bukanlah alasan mutlak untuk mengatakan Barat sebagai Negara maju. Sebab disamping keteraturan itu juga ada prostitusi bebas, seks bebas di tempat umum, dan banyak masalah lainnya yang jarang sekali menjadi tolak ukur untuk menilai kehiduan Barat. alhasil, banyak orang timur yang “Terlalu Terpesona” dengan barat dan mencoba menerapkan ideology mereka di Timur. Padahal background Timur tidak sama dengan Barat. alhasil, kerancuan dan ketidakstabilan yang justru didapatkan masyarakat timur ketika mengikuti peradaban Barat. 

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa ideology humanism yang ampai saat ini berkembang di Barat adalah kegagalan agama gereja dalam menaungi masyarakatnya. Kekuasaan gereja sangat otoriter ditangan para paulus. Berbeda dengan islam, yang tanpa adanya humanism, Agama tetap bisa menjaga dan menaungi hak-hak muslim dan non muslim tanpa ada satu pihak pun yang dirugikan. Wallahu A’lam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...