Langsung ke konten utama

Resensi : Al-‘Adaalah Al-Diniyah Fi Riwayat Al-Haditsiyah (Buku Kanan)


Judul Buku  : Al-‘Adaalah Al-Diniyah Fi Riwayat Al-Haditsiyah
Penulis         : Muhammad bin Umar Bin Salim 
Penerbit       : Dar Al-Imam Ahmad
Tahun terbit : 2005
Tebal Buku   : 112 Halaman 

Standar Keadilan dalam Ilmu Hadits

Tidak diterima periwayatan seseorang kecuali ia adalah orang yang adil dan dhabith. Hal inilah yang disyaratkan dalam penerimaan periwayatan sanad hadits. Keadilan dalam makna ini harus diukur dengan jelas dan pasti agar tidak terjadi kecurangan atau syadz rawi yang akan berakibat pada turunnya kalitas suatu hadits. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh imam Malik bin Anas bahwa, tidaklah diterima suatu ilmu dari 4 orang, orang yang bodoh, pendusta, ahlul ahwa’, orang tua ahli ibadah yang tidak tahu apa yang dibicarakannya. Ungkapan Imam Malik ini adalah salah satu dari peringatan bahwa ilmu itu tidak dapat dipercaya khususnya hadits jika diriwaatkan oleh orang yang memiliki cacat keadilan atau kedhabitan. 

Didalam buku ini dijelaskn secara beruntun dimulai dari pengertian ‘adalah baik secara bahasa maupun istilah, macam-macam ‘adalah, dan kesimpulan dari defenisi ‘adalah. Adapun istilah istilah tersebut didefenisikan oleh para ulama hadits seperti imam as-Subki yang mendefenisikan ‘adalah sebagai suatu sifat yang menyebabkan seseorang bertaqwa (menjauhi amal buruk dan mengerjakan keta’atan) dan menjaga kehormatan. 

Pada tahapan berikutnya penulis menjelaskan bahwa apakah karakter asli setiap muslim dapat dikatakan ‘adil ? dalam pembahasan ini penulis melakukan perbandingan dua pendapat mazhab beserta alasannya. Diikuti dengan pendapat yang kuat dari keduanya, bahwa asal setiap muslim ketika baligh itu ialah ‘adil karena tidak diukur dari karakter sebelumnya. Meskipun demikian tidak serta merta orang yang ketika baligh ‘adil dikatakan ‘adil untuk seterusnya. 

Pada akhir pembahasan, buku ini menjelaskan mengenai peranan sifat ‘adil dalam periwayatan hadits baik dari sisi periwayatan maupun yang lainnya. Menurut hemat saya buku ini sangat bermanfaat dan direkomendasikan untuk orang yang meneliti hadits khususnya untuk rujukan mengenai maksud adil dalam periwaatan hadits. Sehingga tidak terjadi kerancuan dalam studi hadits apalagi studi kritik hadits.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...