Langsung ke konten utama

Falsafah Perempuan Dalam Pandangan Islam


Mawar, selalu melambangkan keanggunan perempuan
meski daunnya layu, kelopaknya gugur, namun ia tetaplah menjadi
mawar yang memikat kumbang, harum semerbak dan kaya akan nilai sakral
yang harus dijaga, dimuliakan, dan dihormati sebagaimana Islam melakukannya
M.T.
Pendahuluan

Membincang mengenai perempuan dalam studi dan kajian Islam, akan sangat sarat dengan perdebatan dan perbincangan pasca sejarah kelam yang menghampiri perempuan-perempuan Barat pada umumnya. Jika tulisan-tulisan sebelumnya yang mengungkapkan sejarah perempuan di Barat, maka tulisan kali ini akan berkaitan dengan kondisi sosial dan budaya perempuan muslim yang selama ini disembunyikan dari gemerlap dunia kesetaraan Gender. 

Berbicara mengenai kesetaraan gender, sangat erat kaitannya dengan gerakan feminism, dimana terjadi tuntutan atas “ketidak Adilan” kaum laki-laki terhadap perempuan sehingga muncullah gagasan untuk menyamakan kedudukan keduanya. Berangkat dari tuntutan tersebut, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berlaku adil. Adil dalam pandangan Islam adalah “meletakkan sesuatu pada tempatnya” dan untuk mengetahui tempat itu tentu harus dirujuk kepada khabar shadiq atau dalam hal ini disebut wahyu. Bagi aktivis perempuan Barat, yang dimaksud adil adalah “kesetaraan, sama hak dan kedudukan”. Namun apakah kesetaraan dalam arti 50:50 antara laki-laki dan perempuan itu dapat disebut adil ? protes demi protes yang dilakukan oleh gerakan feminis tidak lain diatarbelakangi oleh kekejaman gereja terhadap perempuan pada abad pertengahan, dan mungkin ini suatu kewajaran bila terjadi, karena memang Kristen Barat tidak pernah menghargai perempuan. Tentunya hal ini berbeda dengan Islam yang diawal penyebarannya justru sangat memuliakan perempuan. Pertanyaannya, apakah menisbahkan “ketidak adilan” Barat terhadap perempuan kepada Islam yang memuliakan perempuan dapat disebut sebuah keadilan ? tentunya tidak. Allah telah menciptakan perempuan dengan ciri khas, hak, kewajiban dan perannya sendiri, demikian juga dengan laki-laki. Artinya, kehidupan keduanya akan normal jika berjalan di line nya masing-masing. 

Ayah dan Hak Perwalian 

Laki-laki adalah hamba nafsunya, sedangkan perempuan adalah tawanan perasaan kasih sayangnya sendiri. Inilah alasan kenapa Al-Qur’an menggariskan seorang perempuan perawan jika menikah harus mengantongi izin ayahnya sebagai wali. Sering sekali terjadi perempuan saat pertama kali jatuh hati kepada seorang laki-laki akan mempertahankan perasaan tersebut baik dalam diamnya atau diungkapkan secara terus terang. Perempuan yang belum pernah menikah cenderung tidak memahami bagaimana liku-liku dan ruang lingkup kehidupan bersama sorang laki-laki, sehingga tak jarang terjadi kesalahan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Disinilah seorang wali (ayah) mengambil peran, karena sudah lebih daulu memahami liku kehidupan anaknya, maka ayah bertugas melindungi dan mengarahkan kasih sayang sang anak kepada jalan dan pilihan yang tepat. Perlu ditekankan bahwa hal ini bukan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan, cakupannya lebih kepada perlindungan perempuan. Berbeda dengan perempuan yang sudah pernah menikah, ia dapat memilih jalan hidupnya karena telah memahami ruang lingkup kehidupan rumah tangga. 

Islam dan Tuntutan Zaman 

Apakah benar Islam adalah agama yang kolot dan tidak bisa beradaptsi dengan perkembangan zaman ? Dr.Syibli Shumayyil, seorang Arab Lebanon pernah menulis sebuah risalah berjudul The Quran and Prosperity yang merupakan sanggahan terhadap artikel yang dituliskan seorang non muslim tentang kemunduran Islam dizaman modern. Dalam artikel tersebut Dr.Syibly menegaskan bahwa sebab kemunduran umat Islam adalah penyimpangan mereka dari ajaran sosial Islam kepada yang bukan Islam. Dia mengungkapkan bahwa orang-orang Barat yang menyerang Islam tidak memahami Islam atau memiliki motif jahat sehingga membuat orang Timur bersikap sinis terhadap ajaran agama Islam sendiri. Khusus dalam masalah feminism dan gender, dari sekian banyak perdebatan yang berlangsung menuding bahwa Islam tidak toleran dan hanya mengutamakan laki-laki. Padahal jika ditinjau langsung kelapangan, maka masalah masalah tersebut hanya terjadi di Barat, tidak di Timur. Mengapa ? sebab mereka salah dalam memahami ajaran Islam yang sangat memuliakan perempuan. 

Perempuan dan Dilematikanya

Barat selalu mengatakan bahwa Islam merupakan agama untuk laki-laki, Islam tidak mengakui kalau perempuan itu manusia yang lengkap. Dan Islam tidak menetapkan hukum untuk perempuan sesuai kebutuhannya. Seandainya Islam memandang perempuan sebagai manusia yang lengkap, tentunya Islam tidak akan menyetujui poligami, tidak akan memberikan hak cerai kepada laki-laki, menjadikan kesaksian dua orang perempuan sama dengan satu orang laki-laki, suami sebagai pemimpin keluarga dan lain sebagainya yang merupakan hasil dari penafsiran agama yang bias gender. 

Jika dirunut secara khusus, apakah Islam memberikan hak dan tugas kewajiban yang sama kepada perempuan sebagaimana dibebankan pada laki-laki ? lalu, apakah total hak yang diberikan kepada perempuan sama nilainya dengan yang diberikan pada laki-laki ? tentunya tidak. Terkadang banyak yang salah dalam memaknai kalimat “kesamaan” dan “Keidentikan”. Mereka kebanyakan memandang bahwa Islam “Identik” dengan kukuasaan laki-laki dalam segala hal, tanpa merujuk betapa istimewanya perempuan dimata Islam. Perbedaan yang ada antara laki-laki dan perempuan bukanlah hal yang hina, namun lebih kepada hal terbaik yang memang merupakan kodrat penciptaan. Jadi, keinginan Barat yang hendak menyamaratakan perempuan dan laki-laki sama saja dengan “Memaksa laki-laki untuk bisa Haid”. Sebab Islam memberikan hak dan kewajiban sesuai dengan kemampuan, fisik, dan mental tiap manusia, perempuan dengan hak dan kewajibannya, demikian juga laki-laki. 

Kegleisahan Siapa ? 

Perbedaan-perbedaan antara perempuan dan aki-laki !. alangkah menggelikannya gagasan tersebut. Kendatipun kita hidup di Abad ke-21, masih saja ada orang-orang yang berfikir seakan-akan mereka hidup di abad pertngahan dan memegang gagasan-gagasan kuno yang usang. Sebagaimana kita ketahui bahwa penyiksaan dan perbudakan perempuan terjadi jauh sebelum zaman ini, namun sangat mengherankan bahwa ada orang yang tidak mengalami hal sama seperti perempuan Barat namun ingin melakukan protes yang sama seperti yang mereka lakukan. Bahkan yang sangat memalukan, mereka yang telah dimuliakan oleh Islam, tapi masih mengatakan bahwa Islam adalah agama bias gender ?. agaknya ini perlu menjadi renungan, jangan sampai kegelisahan perempuan Barat abad pertengahan ditumpahkan dizaman sekarang. Toh, zaman sekarang tidak sama dengan zaman dahulu. 

Jika ditinjau dari sisi agama, apakah Allah menciptakan perbedaan laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan ketidak adilan ? ternyata tidak, justru dari zaman Nabi Adam sampai saat ini, Islam mengajarkan perbedaan untuk menjalin kebersamaan dan keharmonisan, yang dapat diwujudkan jika laki-laki menikah dengan perempuan.ketika hal ini terwujud maka akan timbul rasa sakinah, mawaddah dan warahmah. Inilah yang dalam kajian kosmologi disebut dengan istilah “perkawinan kosmos”, yang terwujud dalam institusi keluarga. alhasil, perbedaan ternyata membawa ketenangan dan kebahagiaan bagi manusia dalam upaya menjaga alam semesta yang tidak lain merupakan amanah Allah Azza wa Jalla. Wallahu A’lam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

4 PERTANYAAN

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ . أَمَّابَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (سورة الحشر: ١٨ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْ...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...