Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah dan Rasulullah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ. أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى أما بعد... Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Allah dan Rasulullah Puji dan syukur kehadiran Allah Swt,. yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, khususnya nikmat cinta kepada Allah yang mendorong kita melaksanakan seluruh perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sholawat dan salam keharibaan junjungan alam Baginda Rasulullah Saw,. semoga dengan memperbanyak sholawat kepada beliau Allah kuatkan cinta kepadanya sehingga ringanlah segala bentuk kesusahan dalam beribadah. Amin ya Rabbal ‘alamin. Sebelum khatib memulai khutbah ini, terlebih dahulu khatib berwasiat...

ADA APA DIBULAN SYA’BAN ?

Seri 1: Perpindahan Arah Kiblat Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram… (Qs.At-Taubah : 36) Ayat al-Qur’an diatas menjelaskan bahwa dalam rentang satu tahun ada dua belas bulan yang ditentukan oleh Allah ketika menciptakan langit dan bumi. Diantra dua belas bulan tersebut ada empat bulan yang diagungkan dan dimuliakan. Imam Ibnu Jarir at-Thabari menjelaskan bahwa empat bulan yang dimuliakan itu ialah bulan Rajab, Zulqo’dah, Zulhijjah, dan Muharrom. Keempat bulan ini adalah bulan yang dimuliakan oleh orang-orang jahiliyah pada zaman dahulu. Karena kemuliaan bulan-bulan tersebut, maka orang jahiliyah mengharamkan perang, dan membunuh didalamnya. (Jami’ul Bayan Fi Ta’wil al-Qur’an, Juz 14 hal 234) Tidak berhenti sampai disitu, ketika Rasulullah diutus, beliau juga merekomendasikan bulan-bulan tersebut, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam...

Bagaimanakah Cara Melakukan Takbir Intiqal (perpindahan dari satu rukun ke rukun lain) Dalam Shalat?

Masalah : Dalam shalat, setelah tasyahud Awal kan di sunnatkan takbir ketika hendak bangkit. Nah sunnah nya kapan kita bertakbir, apakah ketika duduk bertakbir, ketika bangkit takbir atau setelah kita berdiri baru takbir? Mohon penjelasan dalilnya  Jawab :  Berkata Imam Al Bukhari (H.No752) dan Imam Muslim (H.No392) Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a, Bahwasanya Abu Hurairah Shalat bersama para sahabat maka ia bertakbir (takbir intiqol/ perpindahan rukun) setiap kali hendak rujuk, sujud dan bangkit dari keduanya. setelah selesai shalat mak Abu Hurairah berkata: "Sungguh shalatku adalah shalat yang paling serupa dengan Shalat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.  Hadis ini menunjukkan bahwa setiap kali hendak pindah rukun, misal dari berdiri ke rukuk dan seterusnya disunnatkan mengucap takbir الله اكبر yang dikenal dengan takbir intiqol.  Nah lalu bagaimana cara melakukannya?  Al Imam Al Habib Zein bin Sumaith didalam kita...

Bolehkah Mewasholkan Bacaan Fatihah Dalam Shalat ?

Masalah : Apa hukumnya jika didalam shalat terawih imam membaca surah al-fatihah dengan mewasholkannya (yakni menyambungkan bacaan dari bismillaahirrahmaanirrahim sampai kepada iyyakana'budu tanpa di waqofkan ? Jawab :  Dalam masalah ini, al Habib Zein Bin Sumayth menjelaskan, bahwa syarat-syarat sah nya bacaan fatihah dalam shalat sebagai berikut: 1. Tertib: ayatnya harus sesuai urutan, tidak boleh terbalik balik. 2. Muwalat: tidak ada jeda antar tiap ayat lebih dari sekedar tarik nafas. 3. Menjaga huruf hurufnya: jika gugur satu saja hurufnya, maka batal shalatnya. Demikian juga kalau berubah hurufnya. 4. Menjaga tasydid pada ayat tertentu. 5. Membaca seluruh ayatnya termasuk basmallah. 6. Tidak merubah baris ayat. 7. Membaca fatihah sampai tuntas ketika berdiri. 8. Ia sendiri mendengar bacaan fatihah yg dibacanya. 9. Tidak membaca bacaan lain yg dapat merusak shalat ketika membaca fatehah. (Misalnya bersin lalu ucap alhamdulillah...) 10. Meniatkan me...

Apakah Orang Yang Mengqadha Puasa Ramadhan di Bulan Rajab Mendapatkan Pahala Puasa Sunnat Rajab ?

Berikut Jawaban Syaikhul Akbar, Syaikh Dr.'Ali Jum'ah (Mufti Mesir)  هل يجوز صيام القضاء وستة أيام من شوال بنية واحدة؟ أجاب الدكتور علي جمعة محمد، قائلا : يجوز عند كثير من الفقهاء اندراج صوم النفل تحت صوم الفرض ، وليس العكس ؛ أي لا يجوز أن تندرج نية الفرض تحت نية النفل. وبناءً عليه: يجوز للمرأة المسلمة أن تقضي ما فاتها من صوم رمضان في شهر شوال، وبذلك تكتفي بصيام قضاء ما فاتها من رمضان عن صيام الأيام الستة، ويحصل لها ثوابها؛ لكون هذا الصيام قد وقع في شهر شوال، وذلك قياسا على من دخل المسجد فصلى ركعتين قبل أن يجلس بنية صلاة الفرض أو سنة راتبة، فيحصل له ثواب ركعتي تحية المسجد؛ لكون هذه الصلاة التي أداها قبل أن يجلس. قال البجيرمي في حاشيته: "وتحصل بركعتين فأكثر، أي يحصل فضلها ولو كان ذلك فرضا أو نفلا آخر، سواء أنويت معه أم لا؛ لخبر الشيخين: ((إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين))؛ ولأن المقصود وجود صلاة قبل الجلوس وقد وجدت بذلك". وفي مسألة الصوم قال السيوطي في الأشباه والنظائر ص22: "لو صام في يوم عرفة مثلا قضاء أو نذرا أو كفارة، ونوى معه الص...

Bolehkah Makmum Memanjangkan Do'a di Sujud Terakhir ?

Bismillahirrahmanirrahim.  Ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh makmum dalam shalat berjama’ah. Dan ini dikenal dengan sebutan “Syarat Sah Shalat Berjama’ah”. Diantara syarat tersebut ialah :  1. Makmum tidak boleh berdiri dengan posisi melewati imam. (tetap harus dibelakang imam) 2. makmum harus mengetahui pergerakan imam (bole dengan melihat, mendengar dari speaker/suara imam)  3. hendaklah makmum berniat “makmuman” ketika takbiratul ihrom.  4. Bentuk shalat makmum dan imam harus sama nazhomnya. Maka tidak sah bermakmum zhalat fardhu kepada imam yang sedang shalat jenazah.  5. Makmum harus “mengikuti gerakan imam”. Maka makmum tidak boleh mendahului atau terdahului oleh imam sampai dua rukun fi’li jika tidak ada ‘uzur. Jika ada ‘uzur maka dibolehkan sampai 3 rukun panjang (ruku’, sujud pertama,sujud kedua).  Adapun ‘uzur yang dimaksud dalam hal ini yaitu :  1. makmum yang...

Macam-Macam Orang Yang Menempuh Jalur Tasawuf

(Diterjemahkan dari kitab Tanwir al-Qulub karangan Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi an-Naqshibandi) Murid (orang-orang yang berhajat) kepada akhirat, dan orang-orang yang menempuh perjalanan menuju akhirat masing-masingnya akan mengalami salah satu diantara enam kondisi / keadaan. Adakalanya orang yang mencari akhirat itu menempuh jalan sebagai seorang (1) ‘Abid (Orang yang senantiasa beribadah), (2) ‘Alim (orang yang berilmu pengetahuan), (3) Muta’allim (orang yang senantiasa mempelajari ilmu pengetahuan), (4) Wali (Orang yang mengabdi pada masyarakat), (5) Muhtarif (orang yang hatinya selalu condong kepada Allah Swt), (6) Muwahhid (orang yang larut dalam samudera tauhid). Untuk lebih terperinci, berikut uraian terkait masing-masing kondisi diatas :  ‘ Abid : Adalah sebutan bagi orang yang senantiasa melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Ia tidak pernah menyibukkan dirinya selain untuk ibadah kepada Allah Swt,. Hal ini menyebabkan ia akan merasa sangat rugi ...

MENJADI MUSLIM SEJATI, MERAIH KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT...!!

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke Agama Islam secara sempurna, dan janganlah kalian mengikuti langkah syaithan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu”(Al-Baqarah :208) Tidak dapat dipungkiri, bahwa semakin hari umat Islam semakin malu dengan identitasnya sebagai seorang Muslim. Hal ini tidak lain disebabkan banyaknya tudingan-tudingan miring yang disematkan oleh musuh-musuh Islam kepada umat Islam, dan yang lebih disayangkan, umat Islam sendiri dengan mudahnya membenarkan dan mengikuti begitu saja tudingan-tudingan tersebut.  Sikap umat Islam yang menerima begitu saja terhadap tudingan musuh Islam, berdampak negatif terhadap perkembangan Islam dewasa ini. Umat Islam hari ini lebih banyak yang malu mengenakan simbol-simbol Islami, baik dari segi cara berpakaian, pola hidup, dan prinsip dalam menatap masa depan. Kebanyakan pemuda-pemuda Muslim menjadikan Islam bukanlah hal yang penting untuk diperjuangkan. oleh sebab itu, perlu peranan dan dukungan o...

Membangkitkan Tradisi Keilmuan Dalam Masyarakat Islam

Dewasa ini, masyarakat muslim dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan yang menyerang berbagai sisi kehidupan. Masyarakat muslim dihadapkan dengan berbagai isu-isu kontemporer yang membingungkan. Hal ini dilatarbelakangi oleh informasi media yang mengisukan kondisi sosial dan politik yang berbeda-beda antara satu media dengan media lainnya.  Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar media yang ada di Indonesia, baik media elektronik maupun media cetak lebih banyak yang memojokkan islam, dibanding yang membela dan menguatkan islam. Yang lebih menyedihkan lagi, sebagian besar masyarakat muslim terbawa arus dan mempercayai isu-isu yang memojokkan islam tersebut. Akhirnya, umat islam kebanyakan menjadi malu dengan statusnya sebagai muslim, dan merasa bangga dengan lable modern yang dibawa oleh musuh-musuh Islam.  Soal : Apakah yang menjadi penyebab utama kemunduran umat Islam ?  Jawab : Salah satu penyebab mundurnya umat Islam ialah hilangnya semangat un...

Bolehkah Melakukan Perjalanan Jauh Dengan Niat Ziarah Kubur ?

Problematika seputar ziarah kubur adalah masalah fiqhiyah yang sangat erat kaitannya dengan hukum-hukum syari’at, yakni halal, haram, makruh, ataupun sunnah. Seperti ungkapan didalam sabda Nabi Saw لا تشد الرحال) [1] , bukanlah masalah yang berkaitan dengan aqidah.  Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian kalangan (semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka menuju kebenaran) yang mengkategorikan permasalahan ini kedalam ranah aqidah. Sama halnya seperti apa yang terjadi dalam permasalahan tawassul dengan perantara Baginda Nabi Saw., yang akhirnya bermuara pada tudingan-tudingan “syirik” bahkan mereka tidak enggan mengkafirkan sesama muslim, hanya karena berbeda dengan mereka dalam urusan tawassul dan ziarah kubur Nabi Saw. Padahal, penghulu pemahaman mereka yakni Syaikh Ibn Abdil Wahhab-pun mengkategorikan permasalahan ini dalam ranah fiqhiyah, bukan I’tiqodiyah.  Seperti yang diungkapkan oleh beliau bahwa “Adapun sebagian orang yang meringankan hukum ...

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN ISLAM DAN MENINGGIKAN MARTABAT KAUM MUSLIMIN

Istilah Izzul Islam wal-Muslimin merupakan semboyan yang kerap digunakan untuk mendasari sebuah pergerakan dan pembelaan terhadap agama Islam. Disamping itu, semboyan ini juga selalu digunakan dalam upaya menyadarkan umat Islam dan menyelamatkannya dari keterpurukan, baik keterpurukan dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik maupun keagamaan.  Secara umum, Izzul Islam wal-Muslimin merupakan sebuah istilah yang bermakna “Menjayakan Agama Islam dan Meninggikan Martabat Kaum Muslimin” (Toto Tasmara, Menuju Muslim Kāffah, 2004). Semboyan ini tidak lain adalah respon terhadap keterpurukan umat Islam di era modern dan nyaris terkepung dalam buaian globalisasi. Dengan kata lain, semboyan ini merupakan gebrakan yang bertujuan membangunkan umat Islam dari tidur panjang untuk melakukan perlawanan terhadap keterpurukan umat Islam yang hari ini “nyaris” kembali kepada orde jahiliyah.  Kondisi Jahiliyah Modern yang dihadapi umat Islam hari ini adalah kondisi dimana u...