Judul Buku : ARGUMEN ISLAM UNTUK PLURALISME
Penulis : Budhy Munawwar Rachman
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2010
Tebal Buku : 234 Halaman
Al-Qur’an Dan Pluralisme Agama
Dalam Alqur’an, terdapat banyak ayat ayat yang mengandung nilai-nilai perdamaian dalam hubungan sosial dengan agama lain selain Islam yang dijadikan dalil pengesahan pluralisme agama. Hal ini diungkapkan oleh penulis yakni Budhy Munawwar didalam buku ini. Sudah menjadi kebiasaan kalangan pendukung pluralism agama, menyitir sebagian ayat-ayat Alqur’an untuk mendukung gerakan mereka demi mendapatkan keyakinan umat Islam bahwa ajaran mereka benar. Dengan mengusung ide “perdamaian”, penulis buku ini cenderung mengatakan bahwa Islam pada dasarnya meyakini dan melegitimasi kebenaran agama-agama selain Islam, karena semuanya akan bermuara pada satu Tuhan yang sama. Diantara ungkapan penulis dalam buku ini ialah : “Dengan demikian, pluralism memiliki gagasan dan akar yang bersumber dari Islam sendiri, dan adapun upaya cendikiawan muslim yang belajar ke Barat, pulang dengan membawa gagasan pluralism adalah upaya meneruskan cita-cita dari Islam itu sendiri. Sikap plural. Paradigma ini percaya bahwa setiap agama memiliki jalan selamatnya sendiri, oleh karena itu klaim Islam adalah satu-satunya jalan (eksklusif) atau yang melengkapi atau mengisi jalan yang lain haruslah ditolak, atau lebih tepat dikembangkan selebar mungkin, demi alasan-alasan teologis dan feomenologis. Jika satu agama berhadapan dengan agama lain, maka yang sering muncul adalah klaim kebenaran, yaitu keyakinan dari pemeluk agama tertentu yang menyatakan bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang benar. Dan selanjutnya memunculkan klaim keselamatan, yaitu keyakinan dari pemeluk agama tertentu yang menyatakan bahwa agamanya adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia. Secara sosiologis, klaim ini telah menimbulkan berbagai konflik sosial politik, yang telah mengakibatkan berbagai macam perang antar agama yang sampai sekarang masih terus menjadi kenyataan di zaman modern ini”.
Jadi, pada dasarnya penulis mencoba menggiring pembaca supaya meyakini statementnya dengan pendekatan “kemungkinan konflik antar agama”. dengan penekatan itu emosi pembaca akan mudah tergugah. Namun sayangnya, penulis sekaligus penggagas wacana pluralism agama menisbahkan masalah Barat kepada umat Islam, seolah umat Islam tidak memiliki rasa toleransi dan terkesan arogan. Padahal kenyataan berkata lain. Wal’iyazubillah.

Komentar
Posting Komentar