Langsung ke konten utama

RESUME : TREN PLURALISME AGAMA, TINJAUAN KRITIS (Buku Kanan)


Judul Buku  : TREN PLURALISME AGAMA, TINJAUAN KRITIS
Penulis         : Dr.Anis Malik Thoha
Penerbit       : Perspektif
Tahun          : 2005
Tebal Buku  : 168 Halaman 

Kritik Pluralisme Agama

Diantara issue yang mendapat perhatian cukup besar dan dominan sepanjang zaman adalah issue keberagaman atau pluralitas agama. Issue ini merupakan fenomena yang hadir ditengah keberagaman klaim kebenaran absolute (Absolute truth claims) antar agama yang saling berseberangan. Setiap agama mengklaim dirinya yang paling benar dan yang lain sesat semua. Klaim ini kemudian melahirkan keyakinan yang bisa disebut “Doctrine of Salvation” (doktrin keselamatan), bahwa keselamatan atau pencerahan atau surga merupakan hak para pengikut agama tertentu saja. Sedangkan pemeluk agama lain akan masuk neraka. Sejatiya keyakinan semacam ini juga berlaku pada penganut antar sekte atau aliran dalam agama yang sama, seperti protestan dan katolik dalam agama Kristen. Realisasi tersebut mengantarkan pluralisme kepada diskursus yang semakin luas dan amat komplek.( h.1)

Fenomena ini kemudian ditambah dengan fenomena meningkatnya gelombang dan arus migrasi pemeluk agama-agama “Timur”, khususnya kaum muslimin, ke Negara-negara Barat. hal mana secara umum telah membuat barat, khawatir akan terganggunya keamaan dan ketenteramannya. Barat khawatir akan terganggunya keamanan dan ketenteramannya . Barat yang memang belum terbiasa hidup berkonsistensi damai dengan komunitas-komunitas lain kecuali baru akhir-akhir ini saja (itupun kulit luar saja) dan yang sebetulnya masih harus belajar dari komunitas lain. Begitu merasa khawatir dan paranoid yang berlebihan akan munculnya kelompok atau bangsa lain. Khususnya dari kaum muslimin sebagai kekuatan yang menjadi rivalnya, terutama pasca perang dingin dan runtuhnya Unisoviyet, dan lebih khusus lagi pasca tragedy 9/11/2001. (h2)

Istilah pluraisme agama masih sering disalah fahami atau mengandung pengertian yang kabur. Meskipun terminology ini begitu popular dan tampak disambut begitu hangat secara universal. Hal ini dapat dilihat dari semakin menjamurnya kajian internasional, khususnya setelah konsili vatikan II. Sungguh sangat mengejutkan, ternyata tidak banyak bahkan langka, yang mencoba mendefenisikan pluralisme agama itu. Seakan wacana pluralism agama sudah disepakati secara consensus dan final. Karena pengaruhnya yang luas, istilah ini memerlukan pendefenisian yang jelas dan tegas baik dari segi arti literalnya maupun segi konteks dimana ia banyak digunakan khususnya dalam buku ini. Secara etimologis, pluralism agama berasal dari dua kata yakni Pluralime dan agama. Istilah ini bersal dari bahasa inggris yakni Religious pluralism. Pluralism berarti jama’ atau lebih dari satu. Adapun defenisi agama dalam wacana pemikiran Barat telah mengundang perdebatan dan polemik yang tak berkesudahan, baik dibidang ilmu filsafat agama, theology, sosiologi antropoligi, maupun di bidang perbandingan agama. mereka mendefenisikan agama sebagai semua ideology kehidupan, baik humanism, komunisme dan lain sebagainya yang dibedakan oleh aspek kesejarahan saja. Dengan demikian, pluralism agama adalah kondisi hidup bersama antar agama yang berbeda-beda dengan mempertahankan ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama. tidak sampai disini, Jhon Hick malah menyatakan bahwa adanya keberagaman agama-agama merupakan manifestasi dari yang satu, dengan demikian agama yang satu tidak lebih baik dari agama yang lain. (h.8-15)

Tren pluralism agama muncul pada masa yang disebut pencerahan Eropa pada Abad ke 18 masehi. Masa yang sering disebut sebagai titik permulaan bangkitnya gerakan pemikiran modern. Yaitu masa yang diwarnai dengan wacana-wacana baru pergolakan pemikiran manusia yang berorientasi pada superioritas akal (rasionalisme) dan pembebasan akal dari kungkungan-kungkungan agama. Ditengah hiruk pikuk pergolakan pemikiran di Eropa yang timbul sebagai konsekuensi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara gereja dan kehidupan nyata diluar gereja, muncullah satu paham yang dikenal dengan liberalism. Komposisi utamanya adalah kebebasan, toleransi, persamaan, keragamaan atau pluralism. 

Dalam diskursus pemikiran Islam pluralism merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis dan theologis yang kuat. Gagasan pluralisme agama yang muncul lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kutural Barat modern dalam dunia Islam. Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan plralisme agama dalam wacana pemikiran Islam baru muncul pada masa-masa perang dunia kedua, yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi muda muslim untuk mengenyam pendidikan di Universitas-Universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergsekan langsung dengan budaya Barat. h.23

Akhirnya, pola pemikiran pluralism ini adalah sebuah misi Barat yang dijajakan dengan berbagai media, baik melalui pendidikan, undang-undang dan lain sebagainya. Semua bermuara dari ketakutan Barat akan hambatan kekuatan Umat Islam jika tetap dengan fundamentais nya. Sehingga dicanangkan program universalisasi Pluralime agama. masalahnya, apakah pluralism agama sesuai dengan Islam ? jika di Barat pluralism karena konflik Kristen katolik dan protestan, sehingga tidak menghargai pluralitas. Maka apakah Islam tidak memiliki nilai toleransi sehingga harus mengikuti program pluralism agama ? saya rasa tidak.Wallahu A’lam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

4 PERTANYAAN

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ . أَمَّابَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (سورة الحشر: ١٨ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْ...

JANGAN MARAH

الحَمْدُ للهِ، الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِحْسَانِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، خَالِقُ اللَّيَالِيْ وَالأَيَّامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا محمَّدٍ سَيِّدُ العَرَبِ وَالعَجَمِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامِ. أمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قال الله تعالى فى كتابه الكريم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ، الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: «لاَ تَغْضَبْ» فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: «لاَ تَغْضَبْ» رواه الب...