Oleh : Muhammad Taufiq
Kesetaraan gender merupakan program yang selalu disuarakan oleh sebagian kalangan yang mayoritas terdiri dari kaum perempuan. Ada banyak hal yang menjadi landasan utama kebijakan mereka dalam memperjuangkan hak-hak perempuan yang “selalu tertindas” oleh laki-laki. Diantara kegelisahan tersebut agaknya sangat dominan dalam institusi keluarga, kedudukan dan status social, peran politik dan ekonomi. Bagi kalangan pejuang gender, hal pertama yang perlu disuarakan ialah pemahaman mengenai gender itu sendiri. Kaum gender pasti selalu menyuarakan bahwa Gender yang didalamnya mencakup unsur feminitas dan maskulin, bukanlah fitrah manusia itu sendiri, melainkan sebuah hasil dari seleksi budaya dan perkembangan social. Hal ini berimplikasi pada pandangan akan kedudukan laki-laki dan perempuan yang sama, dimana kehidupan social dan budayalah yang mengarahkan dan menghendaki peran apa yang harus mereka laksanakan. Berangkat dari persamaan ini, maka aktifis gender terus menuntut kesetaraan dan kesamaan dalam berbagai bidang. Al-hasil, perempuan harus bisa melakukan tugas yang biasanya didomonasi oleh laki-laki, seperti menjadi kepala keluarga, kepala pemerintahan, aktivis politik dan ekonomi. Artinya, ada upaya untuk mensejajarkan dan menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan karena peranan seseorang itu tidak harus memiliki pedoman yang pasti, namun semua itu bersumber pada hasil sosialisasi alam dan budaya. Jika dikaji secara mendalam, maka dapat dilihat bahwa ada unsure keterkekangan yang dialami perempuan Barat ketika membuat isu yang menyuarakan kesetaraan Gender ini sendiri. Mungkin hal ini disebabkan prempuan-perempuan Barat pada masa dahulu hanya dijadikan barang dan alat pemuas nafsu seksual semata tanpa ada penghargaan sedikitpun dari kaum laki-laki.
Jika ditinjau dari segi ilmu kosmologis, maka nampaknya akan cukup mencengangkan, dalam ilmu kosmologi, dikenal istilah Kosmologi Islam. Agaknya istilah ini terdiri dari dua kata yakni : Kosmologi sebagai ilmu yang mempelajari Struktur dan sejarah alam semesta berskala besar. Secara khusus, ilmu ini berhubungan dengan asal mula dan evolusi dari suatu subjek. Kosmologi dipelajari dalam astronomi,filosofi, dan agama. Dan Islam : ialah berserah diri kepada Tuhan, atau agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah Swt,. Dengan demikian dapat didefenisikan bahwa Kosmologi Islam ialah Islmu yang Mempelajari struktur alam semesta dalam Perspektif Islam.
Dalam tatanan ilmu kosmologi, ada dua pemeran penting yang saling berkolaborasi dalam menstabilkan Alam Semesta. Pemeran penting itu ialah Tuhan Sebagai Pemberi, Pelaku Aktif yang kemudian disebut sebagai (Maskulin). Pemeran kedua yakni Alam Semesta seperti Bumi dan lainnya yang bertindak sebagai penerima dan dalam hal ini pasif sebab bertugas menerima pemberian, atau dalam kajian ini akan disebut dengan (Feminis). Dalam tatanan kosmologi alam semesta, inilah kerjasama yang aktif dlam mewujudkan keteraturan dan kestabilan kinerja alam semesta sehingga sampai saat ini alam semesta masih dalam keadaan stabil. Hal ini disebabkan kedua pemeran diatas khususnya penerima melakukan tugas dan fungsinya sesuai keteraturan yang telah ditetapkan.
Jika dikerucutkan menjadi lebih khusus, yakni kepada manusia, maka unsure feminis dan maskulin ini pada dasarnya melekat pada setiap manusia. Dalam kajian psikologi setiap laki-laki dan perempuan sejak dilahirkan sudah memiliki unsure feminis dan maskulin didalam dirinya, namun seiring perkembangan nya, akan muncul kecondongan dari masing-masingnya kepada salah satu unrsur tersebut. Nah, pada kodratnya, perempuan akan cenderung mengikuti ibunya sebagai pemeran feminis, dan laki-laki akan cenderung mengikuti ayahnya sebagai maskulin. Dengan adanya pengambilan peranan masing-masing ini, maka akan menghasilkan keharmonisan dimana laki-laki sebagai pemeran maskulin member dan berperan aktif kepada perempuan yang berperan sebagai penerima (feminis) mungkin hal ini dapat disesuaikan dengan Firman Allah Swt,. (Laki-laki adalah pemimpin bagi Perempuan dengan kelebihan yang diberikan kepada sebagiannya atas sebagian yang lain).
Jika peranan ini diputar balik, maka akan terjadi ketidak stabilan, sama halnya bagaimana alam melakukan peran aktif sebagai maskulin padahal kodrat alam adalah feminis (sebagai penerima). Bagaimana mungkin perempuan bertindak sebagai maskulin, sedangkan kodratnya ditakdirkan sebagai feminis ? jika peranan ini diputar balik maka akan mengakibatkan ketidak stabilan yang akan menghancurkan sistematika alam semesta. Demikian juga jika perempuan sebagai feminis ingin memutar balikkan kedudukannya, sebagai maskulin, maka keteraturan sistem social akan rusak dan terjadi ketidak seimbangan yang berakibat fatal. Logikanya, bagaimana mungkin kesetaraan yang dituntut justru menghasilkan ketidak setaraan yang berakibat fatal bagi sistem social ?
Akhirnya : Alam semesta sebagai pelaku pasif (feminis) tugasnya adalah menerima pemberian dari Tuhan sebagai pelaku aktif (maskulin), yang dengan pemberian tersebut alam akan berkembang dan tumbuh sehingga mewujudkan kestabilan kehidupan. Demikian juga perempuan sebagai feminis, tugasnya ialah sebagai penerima pemberian yang kemudian mengatur penggunaan pemberian tersebut sesuai dengan struktur dan tatanan yang dipandu oleh Al-Qur’an dan Hadits.

Komentar
Posting Komentar