Langsung ke konten utama

RESENSI : WACANA BARU RELASI SUAMI ISTRI (Buku Kiri)


Judul Buku   : WACANA BARU RELASI SUAMI ISTRI
Penulis          : Forum Kajian Kitab Kuning 
Penerbit        : LKiS
Tahun Terbit : 2001
Jlh.Halaman  : xxviii +209 Halaman. 

Membincangkan Kembali Wacana Keluarga

Bicara tentang relasi hubungan suami istri agaknya selalu mengarah pada ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 228. Dimana zohir ayat selalu dijadikan tudingan bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya dari perempuan. Ada berbagai alasan yang dikemukakan, diawali dengan asal mula penciptaan wanita, kondisi wanita di Arab baik masa jahiliyah maupun setelah jahiliyah dan lain sebagainya. Sebagian besar literature islam menganggap kekurangan itu sebagai sesuatu yang melekat secara alamiah pada diri seorang perempuan. 

Padahal, Abu Syuqqah berpendapat bahwa kekurangan disini bukanlah kekurangan yang bersifat fitri,melainkan kekurangan nau’i. yakni kekurangan yang disebabkan oleh siklus haid, nifas, ataupun masa-masa hamil, dan perlu diketahui bahwa kekurangan ini tidak menghalangi mereka melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki. 

Banyak ketentuan-ketentuan didalam kitab klasik yang penulisannya didominasi oleh kaum laki-laki (ulama laki-laki) sehingga kedudukan wanita tampak terus tersingkirkan. Hal yang senada dapat dilihat didalam kitab Uqud Lujayn karangan Syaikh Nawawi Banten ini. Didalam kitab ini selalu menukil kelemahan-kelemahan perempuan, padahal jika dikaitkan dengan konteks kekinian dan gender keterangan tersebut cenderung berseberangan dengan realita social yang diahadapi masyarakat utamanya wanita. 

Hal inilah yang mendasari FK3 untuk menela’ah ulang kitab Uqud Lujayn yang merupakan kitab dasar dan selalu dipelajari di pesanten-pesantren utama nya di bulan ramadhan, buku ini sebenarnya kritik terhadap pengkajian kitab kuning pesantren yang monoton dan tidak mengenal diskursus gender dalam keilmuan. Buku ini ditulis dan diterbitkan dengan harpan adanya cahaya terang untuk para wanita yang selalu disudutkan dalam masyarakat dan social budaya.Unsure mencolok yang didapati dari buku ini ialah mengkaji berbagai aspek hukum baik yang sifatnya ta’abbudi maupun tidak dari segi illat, sehingga jika illatnya sudah hilang, maka larangan pun berubah menjadi kebolehan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...