Langsung ke konten utama

Tantangan Pendidikan Di Negara Tercinta


Pendidikan merupakan salah satu unsur pokok yang harus diperjuangkan demi memajukan genrasi muda bangsa yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan keterangan ini dapat diperoleh pembelajaran bahwa tujuan pendidikan adalah menjadikan generasi bangsa yang bertanggung jawab, berakhlak mulia dan beriman keada Tuhan yang maha Esa. 

Indonesia merupakan Negara yang penduduknya beraneka ragam, baik suku, agama, sosial, budaya, warna kulit dan lain sebagainya. Namun dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia berjuang bersama demi mencapai satu cita-cita, inilah yang melatarbelakangi semboyan Bhineka Tunggal Ika (Biar berbeda namun tetap satu jua). Namun, tidak bia dipungkiri bahwa dalam prakteknya, semboyan ke bhinekaan ini sering sekali disalah artikan oleh sebagian kalangan intelektual muda Indonesia. Keanekaragaman boleh saja diterima di Indonesia, namun hal ini keterkaitannya dengan suku dan budaya serta hubungan sosial yang tidak bersinggungan dengan prinsip akidah. Artinya, setiap agama dalam urusan I’tiqad nya harus tetap menjunjung nilai masing masing tanpa mencampur baurkannya dengan agama lain. Demikian juga islam, meskipun dalam kenegaraan bergaul dengan non muslim, namun cukup dalam masalah sosial saja.

Kesalahan generasi muda intelektual belakangan ini ialah mencoba membaurkan ajaran islam dengan ajaran agama lain yang kemudian dikonsep sedemikian rupa dalam undang-undang atau kurikulum pendidikan. Hal ini dapat dilihat dalam ide gagasan “Pendidikan Multikulturalisme”. 

Pendidikan multikulturalsme adalah pendidikan yang mengandung aspek penggabungan berbagai ideology dalam dunia pendidikan, hal inilah yang kemudian menyebabkan muncul larangan berdo’a sebelum belajar, dan berbagai hal lain hanya karena alasan “tidak mengargai agama lain”. Padahal jauh jauh hari sejak zaman Rasulullah Saw,. Islam telah tolerir dan bisa hidup berdampingan dengan non muslim tanpa adanya rasa khawatir. 

Merupakan sebuah kecurigaan, jika dikatakan pendidikan multikulturalisme demi persatuan, namun mengapa umat islam yang selalu di intimidasi dan dikekang perkembangannya ? inilah yang agaknya menjadi pertanyaan besar bagi kita. Islam tidak pernah melarang agama lain melakukan ibadah sesuai keyakinan masing-masing dan inilah yang berjalan selama berabad-abad lamanya. 

Namun kesalahan intelektual muda hari ini adalah menisbahkan kegelisahan orang barat yang hidupnya dikekang gereja kepada umat islam. Sejatinya dapat dikatakan bahwa hal ini diluar akal sehat. Sebab orang yang berakal sehat akan meletakkan masalah pada tempatnya bukan membawa masalah orang lain lalu dituding kepada pihak yang tidak bersalah. 

Inilah yang terjadi hari ini, dengan berbagai macam problem kebangsaaan dalam dunia pendidikan, masihkah cendikiawan muslim bermoral tetap diam ditempat ? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...