Judul Buku : Dilema Wanita Di Era Modern
Penulis : Muhammad Al-Ghazali (Terj.Heri Purnomo)
Penerbit : Mustaqiim
Tahun Terbit : 2003
Jlh.Halaman : 328 Halaman.
Wanita Di Persimpangan Islam dan Tradisi
Suatu jema’ah kaum muslimin yang bermukim di Inggris pernah meminta para penguasa untuk mendirikan sekolah-sekolah khusus islam. Ini merupakan permintaan yanglumrah dan kami senang bila para pendatang di negeri kami mendirikan sekolah-sekolah khusus dimana mereka memperdalam agama mereka, mempelajari bahasa mereka disamping pengetahuan-pengetahuan umum.
Namun hal ini selalu ditolak disebabkan ketakutan adanya pemisahan peranan pemuda dan pemudi. Jack Straw mengatakan didalam majalah time bahwa “sesungguhnya orang-orang yang menolak pendirian sekolah-sekolah tersebut adalah keliru. Bisa jadi karena mereka dipengaruhi oleh kepentingan pribadi, dan mengklaim bahwa mereka tidak mengenal agama islam. Ketidak tahuan terhadap peran wanita dalam theology dan sejarah dapat menutupi kebenaran bahwa posisi wanita muslimah jauh lebih tinggi dibandingkan wanita yahudi pada zaman dahulu.
Masalah Yang Diselewengkan
Ada banyak fakta-fakta tentang ajaran islam yang diselewengkan oleh sebgaian orang, sehingga islam itu sulit untuk diterima terutama di negaea-negara sekuler seperti Inggris. Seperti permasalahan kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga. Sering sekali dimaknai bahwa kepemimpinan dalam hal ini ialah kepemimpinan yang dictator dan kekuasaan yang berpusat pada individu semata yang tidak menerima kesepakatan dan musyawarah. Pemimpin tidak menghargai pihak lain dan tidak menerima keinginan pihak lain. Inilah yang kemudian menjadi penyebab banyak wanita yag protes jika pemimpin rumah tangga diberikan pada laki-laki.
Pada zaman kolonial modern, masih terfapat wanita buta huruf yang tidak bisa baca dan tulis, kebodohan ini selalu dialamatkan atas nama islam yang direkayasa. Kemudian tatkala kebudayaan materialism modern telah menguasai negeri kita, dibukalah peluang bagi wanita untuk belajar di sekolah-sekolah. Hal ini meruoakan propaganda agar umat islam melupakan sejarahnya sendiri, dan berterimakasih kepada pemerintahan colonial yang sudah member peluang besar kepada wanita.
Disisi lain, banyak yang menyatakan bahwa islam tidak menghargai wanita, dan wanita hanya dijadikan barang dan bidak pemuas hawa nafsu. Padahal, sejak islam masuk ke tanah Arab, perbudakan perlahan dihentikan dengan adanya kafarat menebus budah perempuan, dan kebiasaan orang arab untuk menikahi 10 orang istri dikurangi hingga maksimal 4 saja dengan jalan ikatan pernikahan yang sah. pada kenyataan nya, orang arab dahulu sangat antusias pada wanita mereka rela mengorbankan darah dan harta untuk menyelamatkan wanita. Adalah Al-Mundzir Al-Lakhmi raja Hirah yang mempunyai anak laki laki bernama Huraqah dan anak perempuan bernama Huraiq. Manakala tahta nya jatuh sehingga kehidupannya tidak menentu. Ketika itu anaknya Huraqah meminta pertolongan pada Sa’ad bin Abi Waqash yang berhasil menaklukkan negeri Persia, ketika berjumpa maka Sa’ad memberikannya hadiah sebagai ungkapan kepedulian.
Masalah lain yang sering diselewengkan adalah peranan ibu rumah tangga, wanita barat memprotes bahwa islam tidak adil karena hanya menempatkan perempuan sebagai pengurus anak, padahal jauh sebelum statement itu dikeluarkan, apalagi diikuti oleh feminis Indonesia, islam telah menjelaskan bahwa peranan ibu rumah tangga adalah proyek besar yang lebih sulit daripada sekedar mencari nafkah. Sebab ibu rumah tangga menciptakan generasi yang bermartabat, dan tentunya pekerjaan ini tidak bisa dilakukan setiap laki-laki.
Kesilmpulan
Aktivis feminis dan gender sebenarnya tidak memahami secara mendalam bagaimana islam mendidik perempuan yang bermartabat. Mereka selalu memandang bahwa islam hanya memojokkan dan mengurangi peranan perempuan dalam kehidupan social. Mereka memandang rendah tugas seorang ibu rumah tangga, dan menjadikan itu sebagai momok yang mengekang kebebasan. Padahal kebebasan itu bukan dikekang, melainkan diarahkan agar wanita yang dahulu duperjuangkan martabatnya ileh islam tetap menjadi wanita yang bermartabat, bukan wanita rendahan yang bebas dan tidak memiliki aturan.
Komentar
Posting Komentar