Langsung ke konten utama

LANGIT, BUMI, DAN FILOSOFI KESEIMBAGAN


Mungkin bisa dikatakan kita tidak perlu mengadakan perjalanan ke langit untuk mengenal langit, dan tidak perlu menggali bumi untuk mengetahui hakikat bumi. Sebab hakikat bukanlah sebuah hal yang fisik, namun hakikat sesuatu lebih kepada nilai terdalam dari sesuatu. Artinya, bukan hal yang mustahil bagi kita yang tidak memiliki kesempatan terbang ke langit angkasa atau menggali kedalaman permata bumi, untuk mengetahui hakikat dan merasakan betapa agungnya sebuah petunjuk yang kemudian melahirkan wisdom (hikmah). Untuk lebih mudah dalam memahami tulisan ini, mungkin akan lebih baik jika diawali dengan sebuah kemutlakan, yakni “keberpasangan” dalam kehidupan. 

Bicara mengenai langit dan bumi, maka kita akan langsung berfikir mengenai berbagai hal yang ada diantara keduanya. Siang dan malam, gelap dan terang, baik dan buruk, laki-laki dan perempuan, halus dan kasar, dosa dan pahala, serta segala sesuatu yang ada di antara langit dan bumi memiliki kemutlakan yang tidak bisa dihindari, yakni “Keberpasangan”. Belajar dari kajian alam semesta, tanpa disadari kita sebagai manusia telah menikmati rasa ketenangan dengan adanya keberpasangan tersebut. Bayangkan, apa yang terjadi bila di alam ini hanya ada siang ? atau hanya ada malam ? dan betapa absurd nya kehidupan jika hal itu terjadi. Maka dengan adanya pergantian yang teratur antara siang dan malam, kehidupan manusia menjadi bermakna, nah sampai disini sedikit demi sedikit hikmah itu mulai terbuka. Mungkin ini pula maksud dari firman Allah “dan segala-galanya kami ciptakan berpasang-pasangan” dan tentunya kalimat Azwaja didalam ayat tersebut memiliki orientasi “Litaskunuu Ilaihaa”, ya supaya mendapatkan ketenangan. Artinya, ketenangan itu akan didapatkan selama kedua unsur yang berpasangan melaksanakan fungsinya masing-masing dan saling melengkapi. Ini adalah salah satu refleksi dari firman Allah, “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, dan segala sesuatu yang ada didalamnya dalam enam masa (Q.s 32 : 4). 

Kalimat “diantara keduanya” inilah yang mencakup berbagai aspek berpasangan yang disebutkan diatas. Tentunya semua itu diciptakan oleh Allah supaya dapat difahami esensi sebenarnya, yakni lahirnya kesadaran dalam diri kita bahwa segala sesuatu itu memiliki hikmah yang sangat berharga, sehingga ketika kita menyadari hal ini maka akan muncul rasa syukur didalam hati yang kemudian direfleksikan dengan perbuatan. Agaknya ini maksud firman Allah “Dan Dia tidak menciptakan langit dan bumi kecuali untuk tujuan yang sebenarnya (Qs. 30: 8)”. 

Belajar dari keberpasangan ini, maka alangkah bijaksananya jika filosofi langit dan bumi ini dikaitkan dengan hubungan Allah dengan Hamba. Seorang manusia dalam hal ini disebut hamba, sudah menjadi fitrahnya agar berTuhan dan mengabdi pada sang pencipta yakni Allah Swt. Namun perlu difahami terlebih dahulu bahwa hubungan filosofis langit dan bumi hanya bagian kecil yang tidak dapat secara penuh mewakili hubungan Allah dengan HambaNya. Maksudnya supaya tidak disamakan antara sifat langit secara mutlak kepada sifat Allah Swt,. 

Akhirnya, berbicara keseimbangan, maka hal tersebut akan dirasakan jika masing-masing pasangan berada pada posisi dan tugasnya. Dalam hal hubungan Allah dengan manusia, maka manusia harus menempatkan dirinya sebagai hamba yang bertugas menghidupkan cahaya kecenderungan berTuhan yang ada dalam dirinya kepada Allah Swt,. Allah telah memberi anugrah kepada manusia berupa kesempatan untuk hidup dengan berbagai aspeknya, maka sudah saatnya manusia melaksanakan tugasnya sebagai hamba dengan mendalami dan menjalin hubungan yang erat dengan Allah Swt,. Untuk apa ? untuk mendapatkan keseimbangan dan ketenangan baik di dunia dan akhirat, sebagai perwujudan dari tujuan penciptaan manusia, yakni “Menghamba kepada Allah Swt,. (Az-Zariyat 56) WAllahu Waliyyuttaufiq….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...