Langsung ke konten utama

TANTANGAN PERADABAN ISLAM

Oleh : Muhammad Taufiq

Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘alamin memiliki keistimewaan yang sangat besar. Islam dibawa oleh Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi sekaligus Rasul Allah yang terakhir. Sebagaimana diungkapkan oleh al-Baijuri didalam Tuhfatul Murid menyatakan bahwa Rasulullah diutus dengan membawa dua risalah, yakni Risalah al-Taklif dan Risalah al-Tasyrif. Risalah al-Taklif ialah risalah yang berisi syari’at islam yang didalamnya terhimpun perintah melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji serta ibadah lainnya baik yang sifatnya mahdhah maupun gairu mahdhah yang berlaku bagi manusia dan jin. Adapun Risalah al-Tasyrif berisi risalah yang berlaku bagi para malaikat yang betujuan memuliakan Nabi Muhammad Saw, 

Dalam rangkaian sejarah, tatkala Rasulullah diutus dengan membawa syari’at islam maka sejak saat itulah Rasulullah mulai menyampaikan dakwah kepada keluarga terdekat. Kendatipun demikian tak heran bila Rasulullah mendapatkan penolakan bahkan hinaan dari paman nya sendiri, apatah lagi dari masyarakat kota makkah yang notabene berkeyakinan dengan berhala sebagai agama nenek moyang mereka. 

Penolakan demi penolakan bertahun-tahun dihadapi Rasulullah dengan tegar dan terus melaksanakan misi dakwah islam. Hingga akhirnya situasi dan kondisi kota makkah kala itu tidak lagi memungkinkan untuk keselamatan umat islam yag masih sedikit, maka Rasulullah memerintahkan untuk pindah ke Yastrib (sekarang Madinah). Sejak itupula islam diterima dengan baik oleh penduduk Yastrib dan berkembang pesat. Maka sejak itupula tombak awal peradaban islam dimulai dan tempat peradaban itu dinamakan Madinah. Tradisi dan peradaban islam kala itu ditandai dengan adanya aktivitas studi islam yang mengkaji Alqur’an dan Hadits dibimbing langsung oleh Rasulullah Saw. Majelis ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Shuffah. 

Dari aktivitas inilah kemudian lahir para mujtahid dikalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. diantara imam mujtahid yang terkenal ialah al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, al-Imam Syafi’I dan al-Imam Hanbali. Para ulama mujtahid ini dengan perjuangan yang tidak mudah menjaga nilai-nilai tradisi islam waisan Rasulullah dan mengembangkan nya menjadi berbagai disiplin ilmu yang bertujuan menjaga kelestarian keilmuwan islam yang merupakan bagian terpenting dari peradaban islam. Maka untuk menjaga kemurnian ajaran tersebut dari para perusak, keilmuwan islam senantiasa dibentengi silsilah sanad yang sampai kepada Rasulullah Saw,. Para ulama dengan bangga dan ikhlas mengajarkan islam dengan menisbatkan nama para imam mujtahid di dibelakang namanya. Inilah bukti bahwa ulama mujtahid bagi para ulama penerusnya merupakan sebuah kebanggaan dan bukti kecintaan yang mendalam. 

Berbeda halnya dengan zaman ini, umat islam terkesan malu dan enggan untuk dekat dengan ulama, bahkan tidak segan-segan mengkritik dan mencaci para ulama, dengan kata-kata “kita harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah” seolah para ulama tidak mengajarkan ilmu dengan pedoman al-Qur’an dan sunnah. Hal ini menyebabkan banyaknya kalangan muda yang belum memahami ilmu dasar daam mengkaji Alqur’an dan Sunnah memahami teks-teks Nash dengan pemahaman seadanya dan melarang mengikut ulama dalam memahami Nash. Agaknya ini merupakan tahapan awal dari gerakan besar yang mencoba merusak peradaban islam yang sudah dijaga sejak dahulu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...