Langsung ke konten utama

PERANG PEMIKIRAN Part I, (Perang Tanpa Senjata)


Misi Terselubung Missionaris, Orientalis, Kolonialis

Ghazwul Fikri, itulah sebutan lain dari perang pemikiran. Secara defenitif, Ghazwul Fikri atau perang pemikiran ialah “Sebuah upaya mengubah situasi dan kondisi kaum muslimin baik dari segi politik, pengetahuan, sosial dan ekonomi, dengan cara menundukkan hati dan akal, membolak-balik fikiran dan aqidah, sehingga orang yang diperangi pemikirannya akan lemah bahkan tidak mau berfikir, hingga akhirnya mudah dikuasai dan dijatuhkan”.

Perang ini dilakukan oleh tiga kelompok tentara, yakni Missionaris, Kolonialis, dan Orientalis. Ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh tentara-tentara perang pemikiran ini yakni dengan metode (1) Tasykik yakni menciptakan keragu-raguan pandangan akidah umat Islam terhadap agamanya. (2) Tasywih yakni menghilangkan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya. (3) Tadzwib yakni pelarutan budaya dan pemikiran. (4) Taghrib yakni pemBaratan dunia Islam yang mendorong umat Islam agar menerima pemikiran dan budaya Barat. 

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw,. Yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari yang artinya “ Demi Allah, kelak kalian pasti akan mengikuti budaya dan perbuatan orang orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai sampai kalau mereka masuk kedalam lobang biawak sekalipun, kalian pasti akan mengikutinya. Lalu kami berkata : wahai Rasulullah, apakah orang sebelum kami itu yahudi dan nashrani ? Rasulullah bersabda : siapa lagi..”

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maksud jengkal dan hasta itu ialah sebuah perumpamaan teradap kuatnya keterikatan umat Islam dengan mereka, yakni dalam hal kemaksiatan dan hal-hal yang dicela agama. Belajar dari Hadits ini, telah jelas bagi kita bahwa ada upaya baik sengaja maupun tidak disengaja untuk mengikuti budaya dan perbuatan orang-orang yahudi dan Nashrani yang pelakunya adalah umat Islam sendiri. 


Hal ini bisa dilihat berdasarkan realita hari ini, jika ajaran para ulama dahulu Alqur’an difahami dengan tafsir, dan takwil terhadap ayat mutasyabihat, maka hari ini Alqur’an difahami dengan metode hermeneutic (metode penafsiran injil oleh nashrani). Sehingga berujung pada pengkajian Alqur’an berdasarkan kajian budaya dan sejarah. Hal ini tentunya akan berakibat pada hilangnya universalitas Alqur’an, jika di dalam Alqur’an dijelaskan bahwa haram melakukan hubungan sejenis, maka mereka berkata bahwa budaya dan situasi hari ini tidak sesuai dengan situasi ketika ayat tersebut turun, maka hubungan sejenis mulai dibolehkan berdasarkan fatwa-fatwa para orientalis dan cendikiawan muslim yang berfaham liberal. Dan masih banyak lagi problem ghazwul fikri yang merusak dan akhirnya melepaskan umat Islam dari agamanya sendiri. Hari ini, para tentara ghazwul fikri hanya menjaga pos, sebab kaki tangannya yang tidak lain adalah sebagian cendikiawan muslim yang bekerja. Wal’iyaazubillah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...