Langsung ke konten utama

PERADABAN ISLAM, MAKNA DAN SINERGI PEMBANGUNANNYA


Judul Buku : Peradaban Islam, Makna dan Sinergi Pembagunannya
Penulis         : Hamid Fahmy Zarkasyi 
Penerbit       : Centre For Islamic and Occidental Studies (CIOS) UNIDA Gontor
Tahun          : 2015
Tebal Buku : xii+102 Halaman 

Islam, Agama Berperadaban 

1. Makna Peradaban Islam 

Islam merupakan sebuah agama atau dalam istilah arab dikenal dengan kata “diin”. Yang memiliki makna “Keberhutangan, susunan kekuasaan, truktur hukum dan kecenderungan”. Secara istilah dapat pula didefenisikan sebagai sebuah kecenderungan untuk membentuk masyarakat yang menaati ukum dan mencari pemerintah yang adil. (Al-Attas). 

Berdasarkan defenisi diatas agaknya kata “diin” memiliki makna yang saling melengkapi antara satu sama lainnya, yang secara otomatis mecakup satu kesatuan masyarakat yang memiliki kecenderungan, dimana masyarakat tersebut telah memiliki sistem, hukum, dan unsure unsure pelengkap serta rasa keberhutangan yang dibayar dengan ritual-ritual ibadah. 

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa agama islam atau diinul islam merupakan sebuah agama yang kompleks dan mencakup seluruh aspek kehidupan suatu masyarakat yang pada tahap berikutnya dikenal dengan istilah Peradaban (tamaddun) dan tempat dimana peradaban itu muncul dikenal dengan istilah Madinah yang tidak lain merupakan kota suci kedua setelah Makkah yang menjadi tombak perkembangan dakwah islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. 

Peradaban islam adalah peradaban yang memiliki derajat tinggi, hal ini terbukti dengan fleksiblenya ajaran islam ketika masuk ke Nusantara, sehingga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia yang notabene masih memeluk agama Hindu yang kuat. Maka sunguh mengherankan ketika dahulu para ulama mengislamkan Nusantara, hari ini malah masyarakat Indonesia yang menusantarakan islam. 

2. Substansi Peradaban Islam 

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa tanda wujudnya sebuah peradaban ialah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmatik, astronomi, optic, kedokteran dan sebagainya. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban diukur dari maju mundurnya tradisi keilmuan. Ilmu pengetahuan tidak akan mungkin bisa berkembang tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Oleh karena itu peradaban harus dimulai dari komunitas kecil sampai menjadi komunitas besar. Hal ini terbukti dengan madinah, makkah, mesir dan Negara Negara islam yang daulunya kecil menjadi kawasan yang besar dan makmur, seperti kesultanan Abbasiyah dan ‘Usmaniyah yang mengangkang di atas selat Bosporus dengan wilayah kekuasaan di Asia dan Eropa. 
Semua prestasi tersebut bisa tercapai karena peradaban islam memiliki asas yang Absolut. Menjadikan agama sebagai ukuran segala tindakan, menjadikannya sebagai asas peradaban yang menolak kebiadaban. Arnold Toynbee juga mengakui bahwa kekuatan spiritual (Bathiniyah) adalah kekuatan yang memungkinkan seseorang melahirkan atau manifestasi lahiriyah yang kemudian disebut dengan peradaban itu. Jika agama menjadi asas peradaban dan tolak ukur segala tindakan, maka jelaslah bahwa agama islam yang berpegang pada Alqur’an dan Hadits merupakan pandangan hidup atau dikenal dengan istilah Worldview peradaban islam. Maka selama peradaban islam berpegang pada worldview yang benar maka peradaban juga akan semakin maju, demikian pula sebaliknya. 

3. Sumbangan Islam Kepada Barat

Fakta sejarah membuktikan bahwa di Spanyol, orng-orang Kristen tenggelam dalam arus Mozarabic Culture (Terarabkan). Kultur islam yang dominan inilah yang member sumbanan besar bagi lahirnya pandangan hidu baru di Barat. keingintahuan orang-oang barat muncul ketika menyadari bahwa muslim memiliki pandangan hidup yang canggihdan ilmu pengetauan yang kaya dan tak dimiliki belahan dunia lain. 

Spanyol adalah tempat dimana Barat menyerap asirasi dari muslim bagi perkembangan pandangan hidup mereka. Hal ini dapat dibuktikan dengan terecahnya kalangan teologi Kristen menjadi kalangan Averoism dan Avicennian. Jayusi mengkaji dan menemukan bahwa model transformasi kultur islam ke kebudayaan Barat ada lima, yakni : Pertama, cerita-cerita dan sya’ir di transmisikan secara oral oleh orang Barat. kedua, dengan kunjungan turisme pada abad ke 7 M ke Cordoba sebagai ibukota peradaban islam yang menonjol, maka mereka dating untuk belajar peradaban kepada islam. Ketiga, terdapat ubungan dagang dan politik yang resmi melalui utusan yang dikirim kerajaan-kerajaan di Eropa. Keempat, dengan menterjemahkan karya karya ilmiah islam, buktinya di Santa Marie de Rippol terdapat ruangan khusus untuk manuskrip-manuskrip islam yang akan mereka terjemahkan. Kelima, untuk kelancaran proses penerjemahan, raja-raja Eropa mendirikan sekola untuk para penerjemah di Toledo tepat setelah pasukan Kristen merebut kembali kota tersebut pada tahu 1085. Yang tujuannya adalah menggali ilmu dari perpustakaan islam bekas jajahan muslim itu. 

4. Kemunduran Peradaban Islam 

PEradaban adalah sebuah organisme yang sistematik, maka jatu bangunnya suatu peradaban juga sistematik. Artinya, kelemaan salah satu elemen nya apat memicu pengaruh besar kemunduran suatu peradaban. Maka dapat disimpulkan bahwa kemunduran peradaban islam disebabkan oleh factor Internal dan External. Factor eksternal tersebut ialah : 

a. Faktor ekologis dan alami, maksudnya wilayah kekuasaan islam gersang dan semi gersang sehingga penduduk tidak terkonsentrasi menetap pada satu wilayah demi mempertahankan hidup. Hal ini menyebabkan kemiskinan disamping bencana alam dan rentannya masyarakat terhadap serangan dari luar islam.

b. Faktor Eksternal, seperti serangna dari luar, perang salib dan serangan dari mongol yang sulit untuk dikalahkan hingga terjadi penyerangan besar di Samarkan, Bukhara, Khawarizm dilanjutkan ke Persia, Baghdad, Syiria dan Mesir. 

c. Hilangnya perdagangan Islam Internasional dan munculnya kekuatan Barat. 

Sedangkan factor Internal nya ialah kepemimpinan raja-raja yang lemah diikti kuantitas masyarakat yang berkurang, plus tidak diiringi dengan kualitas yang baik. Itulah sebgaian dari pelajaran yang dapat dipetik dari yang disamaikan oleh para sarjanawan muslim tentang kemunuran peradaban islam oleh sebab itu peru perhatian yang mendasar dan upaya yang besar untuk kembali membangkitkan peradaban islam tesebut.

5. Membangun kembali peradaban Islam

Membangun kembali peradaban islam memerlukan beberapa persyaratan yang konseptual, pertama : memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban islam dimasa lalu. Kedua : memahami kondisi umat islam pada masa kini dengan mengidentifikasi problematika yang seang dihadapi umat islam masa kini. Ketiga : sebaa prasyarat ketiga ialah memaami kembali konep-konsep kunci dalam islam. 

a. Kondisi umat islam 
Sejatinya, umat islam masih mungkin untuk bangkit menuju kejayaan kembali, ekonomi masih memadai dan memiliki sumber yang kuat. Namun permasalahannya iala tingkat intelektualitas generasi muslim yang semakin lemah sehingga lebih banyak mengadopsi peradaban dari luar islam, yakni Barat. 

b. Identifikasi Masalah Ummat 
Merosotnya prestasi cendikiawan muslim dalam mengembangkan ilmu pengetahuan islam mengakibatkan merosotnya intelektualitas dibidang ekonomi, politik dan budaya. Inilah yang melatarbelakangi para cendikiawan muslim menawarkan solusi untuk kemajuan islam, cendikiawan ini dibagi kepada dua bagian : pertama, cendikiawan yang berusaha memperbaharui bidang social budaya dan politik sebagaiana dilakukan oleh, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, Sanhuri Pasha, dan al-Maududi. Kedua, kelompok cendikiawan yang menitikberatkan pada bidang pendidikan dan pemaaman ulang ajaran islam. Inilah yang dilakukan oleh Syed Ahmad Khan, Muhammad Iqbal, dan para ulama lainnya. Dan dalam pengembangan intelektual islam mislanya Sultan Mahmud II, Pasha Muhammad Ali diMesir dan lainnya. Dan sisanya cendikiawan yang berkonsentrasi pada bidang ekonomi  seperti Umer Chapra, Kursyid Ahmad dan sebagainya. 

c. Tantangan Pemikiran dan Dampaknya. 
Tantangan besar yang dihadapi oleh umat muslim kala ini ialah tantangan pemikiran yang bersumber dari Barat. Barat merupakan peradaban yang tumbuh dari filsafat Yunani, Romawi, Kristen dan yahudi. Sedangkan islam adala radaan yang bersumber dari wahyu yang memproyeksikan pandangan hidup yang sempurna, difahami, ditafsiri dan dipraktekkan sehingga menghasilkan peradaban yang tentram dan damai. 

Ketertarikan muslim terhadap kemajuan Barat diicu kurangnya kualitas muslim dalam berbagai bidang ilmu, ditambah dengan pandangan hidu yang sudah tidak dipegang erat. Sehingga tertarik dengan barat yang secara umum dapat dibagi menjadi dua, yakni Barat Modern dan Post Modern. Inti dari peradaba Barat ini ialah Sekularisme ang berbuntut pada Liberalisme, Equality, Niilisme dan doktrin lainnya yang jauh bertentangan dengan pondasi ajaran islam ketika peradaban Islam diadopsi oleh Barat, maka Barat menjadi maju, namun tidak sebaliknya, ketika islam mengadopsi pradaban Barat, justru umat islam akan hancur dan naris tidak berperadaban, sehingga terjadi problem dimana-mana termasuk dibidang pokok yakni keilmuan. 

Para pakar peradaban islam memberikan solusi untuk memperbaiki peraaban islam dengan kmbali meningkatkan efektifitas tradisi ilmu pengetauan dengan beberapa cara. 

a. Pendidikan Pesantren 
b. Pendidikan Madrasah
c. Sistem PErguruan Tinggi Islam 
d. Membangkitkan tradisi keilmuan 

Yang kesemuanya dikounter dan dilaksanakan dengan pedoman dan panduan Alqur’an, Sunna, Ijma’ Qiyas sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah, para saabat, serta para ulama dengan tetp mewaspadai dan mengantisipasi masuknya pemikiran Barat yang berbahaya ke dalam dunia Islam. 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...