Langsung ke konten utama

Siapakah Muhammad Bin Abdul Wahab ?


Oleh : Muhammad Taufiq

Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan salah seorang putra dari Syaikh Abdul Wahhab, seorang Ulama bermazhab Hanbali yang menetap dan menjadi hakim di Distrik Uyainah,Nejd. Ibnu Abdil Wahab hidup pada abad ke 12, tepatnya tahun 1143-1206 H. beliau mulai menyampaikan dakwahnya pada tahun 1153, setelah ayahnya meninggal dunia. 

Ibnu abdil Wahhab menurut keterangan dari salah seorang mufti Makkah yang brmazhab Hanbali merupakan pemuda yang malas mempelajari ilmu fikih. Samai sampai ayahnya pernah berkata “Hati-Hatilah, kalian akan melihat keburukan dari muhammad” setela ayahnya meninggal, ia mulai berdakwah menyebarkan faham nya dengan cara mengembalikan segala urusan kepada Alqur’an dan Sunnah serta meninggalkan taklid kepaa siapapun. Hal ini berakibat banyaknya pandangan Muhammad yang berbeda dngan masyarakat sekitar makkah, maka hal ini pula yang sering menjadi perdebatan antara Muhammad dan masyarakat tempatan. 

Syaikh Sulaiman, yang tidak lain merupakan saudara kandung nya sempat menulis sebuah kitab yang menerangkan kesalahan-kesalahan muhammad bin Abdul Wahab, diantaranya ialah : (1) mengklaim mengikut Al-Qur’an dan Sunnah dan berijtihad sendiri. (2).tidak perduli dengan orang lain yang berbeda (3).Tidak mau membandingkan pendapatnya dengan orang lain, (4) mewajibkan orang lain mengikutinya dan siapa yang menentangnya adalah kafir. 

Penyakit depresi yang menyerang Muhammad bin abdul Wahhab menyebabkan ia berfikir bahwa kesyirukan orang jahiliyah lebih baik daripada orang ang hidup pada zamannya karena mengamalkan tawassul, dan berdo’a di kuburan. Pada tahapan berikutnya orang orang yang mengikuti manhaj beliau dikenal dengan istilah Wahhabi. Para ulama yang mengikuti manhaj nya diantaranya ialah Syaikh Al-Albani, Shalih al-‘Usaimin, Fauzan bin Fauzan, dan Abdul Aziz Bin Baaz. 

Orang orang yang mengikuti beliau biasanya akan mengatakan “Mari kembali kepada Alqur’an dan Sunnah” namun dengan pemahaman mereka, bukan dengan pemahaman para ulama. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya ijtihad-ijtihad yang menimpang dan berseberangan dengan ijmak para ulama. Wal’iyazubillah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...