Dalam kosmologi Islam, sifat feminin dan maskulin ditentukan berdasarkan aktif atau pasif nya zat yang disifati. Sebagaimana yang tertera didalam asma’ al-husna, dapat dilihat bahwa Allah memiliki kedua sifat ini secara bersamaan.[1] Allah bersifat maskulin, Ketika Ia dihubungkan dengan alam semesta. Sedangkan alam semesta dalam hal ini bersifat feminin, karena alam semesta merupakan hasil dari sifat Allah Yang maskulin. Gambaran ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, alam bersifat feminine. Ibn ‘Arabi, didalam Fushush al-hikam menyatakan bahwa alam merupakan cerminan sifat-sifat Allah,[2] artinya, alam semesta juga memiliki sifat feminine dan maskulin yang merupakan hasil dari cerminan sifat-sifat Allah Swt,.
Kosmologi Islam memandang manusia sebagai alam kecil (mikrokosmos). Ia mencakup seluruh aspek yang ada di alam semesta (al-kawn al jami’). Hal ini sesuai dengan pandangan al-Qurthubi (671 H) yang menempatkan manusia sebagai presentasi dari seluruh makhluk yang ada di dunia.[3] Pandangan al-Qurthubi ini setidaknya memberikan gambaran bahwa antara manusia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos) memiliki hubungan yang sangat erat. Bahkan, kehidupan manusia tidak lain merupakan gambaran kinerja alam semesta.[4] Termasuk sifat-sifat alam semesta pun diwakili oleh manusia. Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa didalam dirinya manusia-pun memiliki sifat feminine dan maskulin.
Sebagaimana dapat dilihat pada alam semesta, bahwa langit memerankan sifat yang lebih kepada maskulin, sedangkan bumi lebih kepada feminine. Demkian pula halnya dengan manusia, laki-laki dengan bentuk fisiknya lebih cenderung memerankan sifat maskulin, sedangkan perempuan lebih cenderung kepada sifat feminine.[5] Keterangan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki dualitas sifat yang berdampingan, dimana maskulinitas laki-laki juga menyimpan feminitas, demikian pula dengan perempuan, dibalik kecenderungan sifat femininnya ia juga memiliki sifat maskulin. .[6]
Sifat-sifat Allah yang di manifestasikan[7] kepada alam semesta, merupakan sifat yang bertentangan satu sama lainnya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai perbedaan yang ada di alam semesta. Seperti siang dan malam, panas dan dingin, langit dan bumi, matahari dan bulan, yang padanya terbangun relasi kosmik sehingga melahirkan ketentraman dan kestabilan.[8] Kendatipun demikian, seluruh benda yang ada di alam semesta belumlah mampu mewakili atau menjadi cerminan sifat-sifat Allah sepenuhnya. Dalam hal ini Tosihiko menggunakan analogi cermin yang buram, dimana cermin tersebut tidak akan mampu mencerminkan objek dengan baik dan sempurna.[9]
Berbeda dengan manusia, ia dipandang sebagai cermin yang berkilau Karena ia adalah mikrokosmos, yang merupakan bentuk kecil dari gabungan seluruh alam semesta.[10] Sebagai cerminan yang berkilau, maka manusia adalah refleksi sempurna dari sifat-sifat Allah Swt,. Hal ini bermakna bahwa didalam diri manusia sendiri terhimpun berbagai sifat-sifat berbeda yang membentuk kinerja tubuh hingga tetap hidup dengan baik. Jika langit membutuhkan bumi sebagai tempat menampung curahan hujan sehingga menumbuhkan pepohonan, maka laki-laki pun membutuhkan perempuan untuk mendapat kebahagiaan dan ketenangan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam.[11] Artinya didalam diri Hawa tersimpan sebagian dari sifat-sifat yang sebelumnya dimanifestasikan Allah kepada Adam as,. Inilah alasan utama yang menyebabkan Hawa begitu menarik, bagi Nabi Adam.[12] karena pada dasarnya Hawa adalah bagian dari Adam yang dijadikan sebagai wadah manifestasi sifat feminitas Allah Swt. Dengan terjalinnya hubungan antara Nabi Adam dan Hawa, akan lahir kesempurnaan[13] manusia sebagai totalitas manifestasi sifat-sifat Allah Swt,.[14] Jadi, manusia memang diciptakan dengan jenis yang berbeda, karena ia merupakan cerminan dari sifat Jamal dan Jalal Allah, yang tampak bertentangan namun saling melengkapi satu sama lainnya.
[1] Nanang Qosim Yusuf, The Heart OF 7 Awareness, Pelatihan Untuk Mencipta Kesadaran dan Kebahagiaan Menjadi Manusia Diatas Rata-Rata (Jakarta: Hikmah, 2008),h.94
[2] Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Fushush al-Hikam (Libanon: Dar al-Kutub al-‘Arabi, t.t.h), h.48.
[3] Muhammad Syamsuddin al-Qurthubi,al-Jami' Li Ahkam al-Qur'an (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, 1964), Juz 20, h.114. Lihat Juga Darwis Hude, Emosi, Penjelajahan Religio Psikologis Tentang Emosi Manusia Di Dalam Al-Qur'an (Jakarta: Penerbit Erlangga,2006), h.93.
[4] Nicolas J.Woly, Perjumpaan Di Serambi Iman (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), h.317
[5] Annemarie Schimmel, Rahasia Wajah Suci Ilahi, memahami Islam secara fenomenologis(terj) (Bandung: Penerbit Mizan, 1997), h.292.
[6] Sachiko Murata, The Tao Of Islam, h.87
[7] Manifestasi atau istilah lainnya disebut tajalli, adala proses Sang Mutlak Menggelar penjelmaa dirinya dalam bentuk-bentuk yang semakin konkret. Lihat : Toshihiko Izutsu, Sufisme Samudera Ma’rifat IIbn ‘Arabi, h.179. Namun, dalam memahami makna manifestasi sifat-sifat Allah ini tidak sedikit orang yang salah dalam memahami. Maka para ulama tasawuf lebih cenderung menggunakan istilah tajalli yang bermakna menunjukkan keagungan dan keperkasaan sifat-sifat Allah di alam semesta. tujuannya adalah agar manusia menyadari bahwa segala hal yang ada dimukabumi tidak lain merupakan hasil pentajallian tersebut. maka siapa saja yang telah sampai pada maqam penyaksian manifestasi sifat-sifat Allah di dunia, niscaya akan melihat zat Allah dihari kiamat tanpa bentuk dan rupa.Abdul Qadir al-Jailani, Secret of the Secrets, Hakikat Segala Rahasia Kehidupan(Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2008),h.160.
[8]Sachiko Murata, The Tao of Islam, h.34. lihat juga pada halaman 165 mengenai langit dan bumi.
[9] Toshihiko Izutsu, Sufisme Samudera Ma’rifat IIbn ‘Arabi, h.263
[10] Ibid,. 264.
[11] Q.s An-Nisa ayat 1. Penafsirannya lihat Mujahid bin Hajar al-Makhzumi, Tafsir Mujahid, Tahqiq Muhammad Abdussalam Abu Nail (Mesir: Dar al-Fikr al-Islamiy al-Hadistah, 1410 H), Juz.1 h.265 dan Muhammad bin Jarir at-Tabari, Jami' al-Bayan Fi Ta'wil al-Qur'an (t.t: Muassasah ar-Risalah, 1420 H), Juz.7, h.512.
[12] Sachiko Murata, The Tao of Islam, h.246.
[13] Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Fusush al-Hikam (Libanon: Dar Kutub al-‘Arabi, t.t.h), h.215.
[14] Jawadi Amuli, Keindahan dan Keagungan Perempuan (Jakarta: Sadra Press, 2011), h.11.

Komentar
Posting Komentar