Langsung ke konten utama

Benarkah Para Sahabat Menulis Hadits ?


Budaya penulisan dalam tradisi Islam sudah dimulai sejak Rasulullah masih hidup. Hal ini sebagaimana dibuktikan oleh fakta sejarah bahwa Rasulullah menyuruh para sahabat menuliskan ayat-ayat al-Qur’an. Pada masa itu media yang digunakan adalah dedaunan, kulit kayu, tulang, dan media lain yang memungkinkan. Tradisi penulisan ini ternyata tidak terbatas pada ayat-ayat al-Qur’an semata, namun terdapat bukti manuskrip teks-teks hadits yang dilakukan sebagian sahabat seperti Sahifah Hammaam yang ada ditangan Hammam bin Munabbih. 

Adapun metode penulisan hadits pada masa Rasulullah, bahkan sampai saat ini adalah metode Isnad. Hal ini merupakan bagian penting dari penulisan hadits. Dalam penulisan sanad ini para penghafal dan penulis hadis biasa menggunakan ungkapan “Sami’tu /na, Akhbarana,” dan lain-lain. Sesuai dengan metode Tahammul Wal Adaa’ dari tiap-tiap hadits. Metode Tahammul Wal Ada’ sendiri terbagi kepada delapan poin, sebagian diantaranya metode Sima’, Qira’ah ‘Ala Syaikh, Ijazah, Dan Munawalah. Adanya metode metode ini tentunya berguna untuk menentukan kualitas otentifikasi hadits pada masa berikutnya. 

Karakter masyarakat Muslim Arab, atau dalam hal ini para sahabat memiliki kualitas ingatan yang kuat. Andaikata keilmuan dan catatan-catatan al-Qur’an dan hadits tidak ada, mereka tetap mampu mengingat semuanya dengan teratur. Namun, Rasulullah dan para sahabat mempersiapkan segala hal untuk mewaspadai kemungkinan yang tidak diharapkan, sehingga penulisan tetap dilakukan sebagai penguat dan pengkofirmasi hafalan. Khusus pada penulisan hadits, hasilnya tidak di publikasikan secara umum kecuali wafat Rasulullah saw. Dan mulai dibukukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 101 H. 

Salah satu karya terkemuka manuskrip hadits ialah Sahifah Hammaam yang berada ditangan Hammam bin Munabbih. Karya ini ternyata hanya salah satu dari karya-karya Abu Hurairah yang berisi 138 Hadits, dan ini hanya sebagian dari ribuan sahifah yang ditullis oleh Abu Hurairah dan ditunjukkan pasca Rasulullah wafat. Pernah suatu ketika Amr bin Umayyah membacakan sebuah hadits kepada Abu Hurairah dan menyatakan hadits tersebut berasal dari Abu Hurairah, namun hal ini dibantah dengan mengatakan “kalau hadits itu bersumber dariku tentu ada didalam catatanku”. Hal ini setidaknya menggambarkan bawa setiap hadits yang diterima dan dihafal Abu Hurairah pasti dicatat didalam lembaran-lembaran yang disimpan sendiri olehnya. Demikian juga ketika Basyir bin Nahik membacakan catatan-catatan nya didepan Abu Hurairah sembari mengatakan seluruh hadits ini aku teerima darimu, lalu Abu Hurairah menjawab “ya, engkau benar”. Artinya, pada masa itu catatan digunakan sebagai bukti dan konfirmasi hafalan para muaddits. 

Lalu bagaimana dengan larangan Rasulullah untuk menuliskan hadits ? ternyata larangan tersebut hanya berlaku untuk hadits yang serupa dengan al-Qur’an dan ditulis dalam lembaran yang sama. Hal ini dikhawatirkan akan bercampur dengan al-Qur’an sehingga Rasulullah memerintahkan menghapus haditsnya dan membiarkan ayat al-Qur’annya. Adapun penulisan di lembaran lain maka pada masa Rasulullah dibenarkan, bahkan sebagian sahabat menulis hadits dihadapan Rasulullah Saw,. Dr.Musthafa A’zami-pun menyatakan bawa ada sekitar 50 orang sahabat yang terjun langsung dalam dunia penulisan hadits yang mana aktifitas mereka diketahui oleh Rasulullah Saw,. 

Setelah beberapa fakta sejarah diatas, maka sangat mengherankan ketika pada orientalis menjustufukasi hadits itu tidak dapat diterima karena ditulis jauh setelah Rasulullah wafat, yakni tahun 200-250 H. Pandangan ini jelas sangat tidak berdasar, karena sejarah telah membuktikan kebalikannya. Awal mula “pembukuan” hadits dimulai pada masa kalifah Umar bin Abdul Aziz pada taun 101 H. Terbukti dengan karya Imam Syihab az-Zuri pada tahun 124 H, dan kitab al-Muwatta karya imam Malik yang telah ditulis pada tahun 179 H. inilah salah satu sebab kenapa para pakar bahasa menyatakan kata “Hafazha” tidak terbatas pada hafalan, namun masuk juga kategori catatan-catatan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pandangan orientalis tentang penulisan hadits adalah disebabkan ketiaktahuan terhadap sejarah, sehingga salah dalam mengambil kesimpulan. Al-hasil hampir seluruh Orientalis tidak percaya dengan Hadits dan menyatakan hadits hanya budaya Arab semata. Wal-‘Iyaazubillah. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

4 PERTANYAAN

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ . أَمَّابَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (سورة الحشر: ١٨ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْ...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...