Langsung ke konten utama

Postingan

Membangkitkan Tradisi Keilmuan Dalam Masyarakat Islam

Dewasa ini, masyarakat muslim dihadapkan dengan berbagai macam permasalahan yang menyerang berbagai sisi kehidupan. Masyarakat muslim dihadapkan dengan berbagai isu-isu kontemporer yang membingungkan. Hal ini dilatarbelakangi oleh informasi media yang mengisukan kondisi sosial dan politik yang berbeda-beda antara satu media dengan media lainnya.  Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar media yang ada di Indonesia, baik media elektronik maupun media cetak lebih banyak yang memojokkan islam, dibanding yang membela dan menguatkan islam. Yang lebih menyedihkan lagi, sebagian besar masyarakat muslim terbawa arus dan mempercayai isu-isu yang memojokkan islam tersebut. Akhirnya, umat islam kebanyakan menjadi malu dengan statusnya sebagai muslim, dan merasa bangga dengan lable modern yang dibawa oleh musuh-musuh Islam.  Soal : Apakah yang menjadi penyebab utama kemunduran umat Islam ?  Jawab : Salah satu penyebab mundurnya umat Islam ialah hilangnya semangat un...

Bolehkah Melakukan Perjalanan Jauh Dengan Niat Ziarah Kubur ?

Problematika seputar ziarah kubur adalah masalah fiqhiyah yang sangat erat kaitannya dengan hukum-hukum syari’at, yakni halal, haram, makruh, ataupun sunnah. Seperti ungkapan didalam sabda Nabi Saw لا تشد الرحال) [1] , bukanlah masalah yang berkaitan dengan aqidah.  Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian kalangan (semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka menuju kebenaran) yang mengkategorikan permasalahan ini kedalam ranah aqidah. Sama halnya seperti apa yang terjadi dalam permasalahan tawassul dengan perantara Baginda Nabi Saw., yang akhirnya bermuara pada tudingan-tudingan “syirik” bahkan mereka tidak enggan mengkafirkan sesama muslim, hanya karena berbeda dengan mereka dalam urusan tawassul dan ziarah kubur Nabi Saw. Padahal, penghulu pemahaman mereka yakni Syaikh Ibn Abdil Wahhab-pun mengkategorikan permasalahan ini dalam ranah fiqhiyah, bukan I’tiqodiyah.  Seperti yang diungkapkan oleh beliau bahwa “Adapun sebagian orang yang meringankan hukum ...

MENGEMBALIKAN KEJAYAAN ISLAM DAN MENINGGIKAN MARTABAT KAUM MUSLIMIN

Istilah Izzul Islam wal-Muslimin merupakan semboyan yang kerap digunakan untuk mendasari sebuah pergerakan dan pembelaan terhadap agama Islam. Disamping itu, semboyan ini juga selalu digunakan dalam upaya menyadarkan umat Islam dan menyelamatkannya dari keterpurukan, baik keterpurukan dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik maupun keagamaan.  Secara umum, Izzul Islam wal-Muslimin merupakan sebuah istilah yang bermakna “Menjayakan Agama Islam dan Meninggikan Martabat Kaum Muslimin” (Toto Tasmara, Menuju Muslim Kāffah, 2004). Semboyan ini tidak lain adalah respon terhadap keterpurukan umat Islam di era modern dan nyaris terkepung dalam buaian globalisasi. Dengan kata lain, semboyan ini merupakan gebrakan yang bertujuan membangunkan umat Islam dari tidur panjang untuk melakukan perlawanan terhadap keterpurukan umat Islam yang hari ini “nyaris” kembali kepada orde jahiliyah.  Kondisi Jahiliyah Modern yang dihadapi umat Islam hari ini adalah kondisi dimana u...

Apakah Non Muslim Wajib Masuk Islam ?

Apakah Non Muslim Wajib Masuk Islam ?  Iman kepada Allah dan Rasul merupakan pokok keimanan setiap muslim yang terhimpun dalam dua kalimat syahadat. Kendatipun demikian, hal ini tidak memiliki makna bahwa hanya orang muslim yang wajib beriman kepada Allah dan Rasul, namun beban tersebut juga berlaku bagi seluruh makhluk termasuk orang-orang yang non muslim, bahkan kalangan jin sekalipun wajib beriman kepada allah dan Rasul. Syaikh Abdillah bin Thahir Ba-‘alwi didalam matan  Sullam al-Taufiq  menyatakan sebagai berikut :  "يجب على كل مكلف الدخول في دين الاسلام والثبوت فيه على الدوام والتزام ما لزم" Artinya : Wajib bagi setiap Mukallaf masuk Islam, dan menetapi agama tersebut selamanya serta melaksanakan hal-hal yang diwajibkan didalam islam.  Siapakah Yang Disebut Mukallaf ? Syaikh salim al-hadhromi didalam matan safinatunnajah menyatakan bahwa yang dimaksud mukallaf ialah orang yang memenuhi empat persyaratan :  a. Baligh (mim...

Mengapa Wanita Dianjurkan Memakai Niqob (Cadar) ?

Pendahuluan  Syari'at Islam adalah sekumpulan aturan kehidupan yang membawa kebahagiaan (maslahat). Sekumpulan syari'at itu diturunkan oleh Allah melalui perantara Rasulullah, Sang pembawa Wahyu al-Qur'an yang menjadi mukjizat terbesar dan berlaku sampai hari kiamat. Orang-orang yang mengamalkan Syari'at tersebut tentulah akan mendapatkan kebahagiaan, karena esensi kebahagiaan itu sendiri adalah ketika manusia kembali kepada fitrahnya sebagai hamba yang patuh kepada Allah, (SMN Al-Attas: Konsep Kebahagiaan dan pengalamannya dalam Islam).  Salah Satu dari aturan tersebut Ialah tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Syari’at islam mengatur dengan tegas bagaimana cara-cara bermu’amalah antara laki-laki dan perempuan. Diantaranya ialah menjaga pandangan dari melihat hal-hal yang diharamkan. Sebagai aturan yang datang langsung dari Allah, tentulah ada solusi untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan tersebut. dalam tulisan ini penulis akan mencoba membahas se...

Manusia Dalam Pandangan Kosmologi Islam

Dalam kosmologi Islam, sifat feminin dan maskulin ditentukan berdasarkan aktif atau pasif nya zat yang disifati. Sebagaimana yang tertera didalam asma’ al-husna, dapat dilihat bahwa Allah memiliki kedua sifat ini secara bersamaan. [1] Allah bersifat maskulin, Ketika Ia dihubungkan dengan alam semesta. Sedangkan alam semesta dalam hal ini bersifat feminin, karena alam semesta merupakan hasil dari sifat Allah Yang maskulin. Gambaran ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, alam bersifat feminine. Ibn ‘Arabi, didalam Fushush al-hikam menyatakan bahwa alam merupakan cerminan sifat-sifat Allah, [2] artinya, alam semesta juga memiliki sifat feminine dan maskulin yang merupakan hasil dari cerminan sifat-sifat Allah Swt,.  Kosmologi Islam memandang manusia sebagai alam kecil (mikrokosmos). Ia mencakup seluruh aspek yang ada di alam semesta (al-kawn al jami’). Hal ini sesuai dengan pandangan al-Qurthubi (671 H) yang menempatkan manusia sebagai presentasi dari seluruh makhluk yang a...

Kepemimpinan Dalam Islam

Pendahuluan Pada dasarnya, konsep kepemimpinan dalam Islam sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw,. Rujukan utama dalam menentukan kebijakan publik telah dijelaskan secara umum didalam Al-Qur’an dan Hadis. Namun hal-hal teknis yang terkait dengan penggantian kepemimpinan perlu adanya analisa dan metode pendekatan yang dipakai untuk mmahami kedua teks diatas. Imam al-Baqillani memberikan solusi terhadap hal ini dengan berpedoman kepada al-Qur’an, hadis, ijma’ qiyas dan hujjah akal. Dengan berlandaskan kelima pondasi tersebut, maka akan lebih mudah menyelesaikan masalah terkait kepemimpinan. (­Al-Baqillani, al-Insaf, h.30-32).  Kepemimpinan adalah perkara yang penting bagi umat Islam. Hal ini dapat dilihat dari sejarah peralihan kepemimpinan dari Rasulullah kepada Khalifah Abu Bakr. Dimana pengangkatan pemimpin lebih didahulukan daripada menyegerakan pengurusan jenazah Rasulullah. Peristiwa ini tentunya bukan sebuah kecerobohan para sahabat, melainkan sebuah inisiatif penting un...