Langsung ke konten utama

Macam-Macam Orang Yang Menempuh Jalur Tasawuf

(Diterjemahkan dari kitab Tanwir al-Qulub karangan Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi an-Naqshibandi)

Murid (orang-orang yang berhajat) kepada akhirat, dan orang-orang yang menempuh perjalanan menuju akhirat masing-masingnya akan mengalami salah satu diantara enam kondisi / keadaan. Adakalanya orang yang mencari akhirat itu menempuh jalan sebagai seorang (1) ‘Abid (Orang yang senantiasa beribadah), (2) ‘Alim (orang yang berilmu pengetahuan), (3) Muta’allim (orang yang senantiasa mempelajari ilmu pengetahuan), (4) Wali (Orang yang mengabdi pada masyarakat), (5) Muhtarif (orang yang hatinya selalu condong kepada Allah Swt), (6) Muwahhid (orang yang larut dalam samudera tauhid). Untuk lebih terperinci, berikut uraian terkait masing-masing kondisi diatas : 

  1. Abid : Adalah sebutan bagi orang yang senantiasa melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Ia tidak pernah menyibukkan dirinya selain untuk ibadah kepada Allah Swt,. Hal ini menyebabkan ia akan merasa sangat rugi dan sangat bersalah jika satu ketika ia meninggalkan ibadah yang biasa dilaksanakannya. Orang yang disebut sebagai ‘abid ini senantiasa rajin beribadah dan istiqomah dalam ibadahnya, disamping ia juga rajin hadir di majelis ilmu dan majelis zikir. Sebagaimana sabda Nabi Saw : “Jika kalian melewati taman-taman surga, maka ikutlah duduk disitu”, lalu para sahabat bertanya : “apakah yang Engkau maksud dengan taman surge itu wahai Rasulullah ?” Lalu Rasulullah bersabda : “Taman surga itu ialah majelis Zikir dan Majelis ilmu”. (HR.Imam Turmudzi). 
  2. ‘Alim : Ialah orang yang berilmu dan ilmunya bermanfaat untuk orang lain. Umpamanya untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, mengajarkan ilmu pengetahuan, atau mengarang buku-buku/ kitab yang akan berguna bagi masyarakat. Maka jika memungkinkan, menyibukkan diri dengan ilmu yang semacam ini lebih utama baginya setelah menyibukkan diri dengan ibadah fardu dan sunnat rawatib, tentunya jika kegiatan mengajarkan ilmu tersebut diniatkan untuk menolong sesama manusia agar mudah dalam beribadah. Adapun yang dimaksud “ilmu lebih utama daripada ibadah” ialah ilmu yang jika dipelajari atau diajarkan membuat orang mengharapkan akhirat, menjadikannya zuhud di dunia, dan bukan ilmu yang menjadikan orang cenderung lebih mengharapkan kekayaan, pangkat an jabatan. 
  3. Muta’allim : Ialah orang yang senantiasa mempelajari ilmu pengetahuan untuk mendapatkan keridha’an Allah Swt,. maka kesibukannya dalam menuntut ilmu pengetahuan ini lebih afdhal baginya dibandingkan menyibukkan diri dengan berzikir dan shalat-shalat sunnat mutlaq. Kendatipun demikian, alangkah baiknya ia menuntut ilmu namun tidak meninggalkan wirid-wirid/zikir-zikir setiap hari. Karena zikir-zikir itu nantinya akan membantu memudahkan urusannya dalam menuntut ilmu pengetahuan. Dan orang yang menghadiri majelis ilmu meskipun ia tidak faham maka itu lebih baik baginya dibandingkan menghadiri yang bukan majelis ilmu. Sebagaimana dikatakan oleh Ka’ab al-Ahbar : “kalaulah pahala menuntut ilmu di majelis ilmu itu ditunjukkan kepada manusia, maka mereka akan bersaing dan meninggalkan kepentingannya yang lain demi menghadiri majelis ilmu”. Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Abu Bakr : “Sesungguhnya seorang yang keluar dari rumahnya dengan dosa sebesar gunung, jika ia mendengarkan nasihat orang yang berilmu sehingga ia menjadi takut kepada Allah dan berharap ampunan Allah, maka ia ketika ia pulang kerumah ia tidak lagi membawa sebutir dosa-pun”. Oleh sebab itu janganlah menjauhkan diri dari mejelis ilmu pengetahuan, sebab tidak ada sesuatu yang lebih ampuh dan bermanfaat untuk melepaskan ikatan dunia didalam hati, selain majelis yang didalamnya berisi nasihat agama, shalat-shalat sunnat, dan ibadah serta ilmu pengetahuan. 
  4. Wali :Ialah orang yang senantiasa mengutamakan maslahat/kebaikan masyarakat Seperti imam (Ulama) dan Qadhi (Hakim). Ia berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menegakkan pilar-pilar dan semangat beragama kaum muslimin. Ia senantiasa ikhlas melakukan upaya-upaya tersebut. orang menempuh kegiatan yang berpuncak pada maslahat muslimin disiang hari, dan menyibukkan diri dengan wirid dan ibadah dimalam hari. 
  5. Muhtarif : Ialah orang ang hatinya senantiasa condong kepada Allah meskipun ia tetap melakukan pekerjaan sebagaimana manusia pada umumnya. Ia berharap kebaktiannya memenuhi tanggung jawab menafkahi keluarga menjadi jalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, hatinya tidak luput dari berzikir dan membaca wirid-wirid bahkan ketika berdagang di pasar-pun ia tidak lupa berzikir. Dan ketika ia merasa kebutuhannya dan keluarga telah tercukupi, maka ia segera menghabiskan waktunya untuk beribadah totalitas. 
  6. Muwahhid : Ialah orang yang tenggelam dalam samudera keesaan Allah Swt,. ia tidak mencintai selain Allah dan tidak takut kecuali hanya kepada Allah Swt,. ia tidak pernah menyandarkan rezekinya kecuali kepada Allah Swt,. Oleh sebab itu, siapapun yang telah mencapai derajat ini, ia tidak lagi disibukkan dengan amalan-amalan yang berbeda dan bermacam-macam. Namun amalannya setelah amalan fardhu dan rawatib hanya satu, yakni, “Menghadirkan hati kepada Allah Swt dalam setiap situasi dan kondisi”. Ia tidak merasa khawatir, tidaklah apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat melainkan tersimpan didalamnya ibroh (pembelajaran), dan penambah keimanan. Inilah seluruh relung hidupnya dan inilah puncak derajat siddiiqiin, dan tidak akan bisa sampai kepada derajat ini melainkan telah melazimkan dan mengistiqomakan amalan-amalan yang dianjurkan oleh agama. 
Oleh sebab itu tidak sebaiknya seorang murid yang hendak menempuh jalan akhirat mengosongkan dirinya dari hal iwal dan keadaan diatas. Apalagi sampai malas dalam melaksanakan ibadah dan amalan sunnah. Karena tanda tanda orang yang telah mencapai derajat ini ialah hilangnya rasa khawatir dan was-was didalam hatinya. Sebagaimana firman Allah Swt :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa ketakutan dan kesedihan diati mereka” (Q.s Yunus : 62) Wallahu A’lam…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

4 PERTANYAAN

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ . أَمَّابَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (سورة الحشر: ١٨ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْ...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...