Langsung ke konten utama

Bolehkah Makmum Memanjangkan Do'a di Sujud Terakhir ?


Bismillahirrahmanirrahim. 

Ada beberapa hal yang harus dipenuhi oleh makmum dalam shalat berjama’ah. Dan ini dikenal dengan sebutan “Syarat Sah Shalat Berjama’ah”. Diantara syarat tersebut ialah : 

1. Makmum tidak boleh berdiri dengan posisi melewati imam. (tetap harus dibelakang imam)

2. makmum harus mengetahui pergerakan imam (bole dengan melihat, mendengar dari speaker/suara imam) 

3. hendaklah makmum berniat “makmuman” ketika takbiratul ihrom. 

4. Bentuk shalat makmum dan imam harus sama nazhomnya. Maka tidak sah bermakmum zhalat fardhu kepada imam yang sedang shalat jenazah. 

5. Makmum harus “mengikuti gerakan imam”. Maka makmum tidak boleh mendahului atau terdahului oleh imam sampai dua rukun fi’li jika tidak ada ‘uzur. Jika ada ‘uzur maka dibolehkan sampai 3 rukun panjang (ruku’, sujud pertama,sujud kedua). 

Adapun ‘uzur yang dimaksud dalam hal ini yaitu : 

1. makmum yang sulit membaca fatihah (baru hafal/lidah kelu) 

2. makmum ragu sudah membaca fatihah atau belum

3. makmum lupa membaca fatihah

4. makmum masih membaca do’a iftitah sementara imam sudah ruku’. 

Jika seorang makmum mengalami uzur diatas, maka boleh dia ketinggalan sampai maksimal 3 rukun fi’li yang panjang. 

Masalah : jika makmum membaca do’a setelah sujud terakhir yang panjang, apakah boleh ia tetap sujud dan berdo’a sedangkan imam sudah takbir duduk tasyahud akhir ? 

Jawab : berdasarkan keterangan diatas, perlu kita lihat, bahwa rukun fi’li yang akan dilaksanakan imam hanya tinggal “Duduk Tasyahud Akhir" (satu rukun). Sehingga jika makmum melamakan bacaan do’a setelah sujud terakhir, maka “tidak mengapa”. Karena ia hanya akan ketinggalan 1 “rukun fi’li” dari imam dan ini tidak termasuk hal yang melanggar syarat sah shalat berjama’ah, baik makmum dalam kondisi ‘uzur ataupun tidak. Wallahu A’lam.

Scan Kitab :


Sumber : Kitab Taqrirat Sadidah, Juz 1 hal 296-300. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...