Langsung ke konten utama

MENYINGKAP HIKMAH DIBALIK ISRA’ MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW (part 1)

Rasul-Rasul Allah Swt masing-masing memiliki keistimewaan yang menjadi mu’jizat yang berfungsi sebagai sesuatu bukti dan penguat kebenaran dakwah para Rasul Allah dan melemahkan tudingan-tudingan para pendusta-pendusta ajaran Rasulullah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kisah yang diungkapkan didalam Al-Qur’an, Hadis dan sirah para Nabi dan Rasul Allah. Sebagai sebuah contoh, ketika Nabi Nuh as. Membuat perahu disaat cuaca kering kerontang, hal ini menjadi olok-olokan dari umatnya kala itu, sampai-sampai kapal yang dibuat diatas puncak gunung tersebut dikotori bahkan dengan kotoran mereka sendiri,hal ini menunjukkan pendustaan yang sangat besar pada Nabi Nuh as. Namun Allah maha berkuasa atas hamba-hambanya, kotoran yang mereka buang di kapal Nabi Nuh justru menjadi obat kebutaan dan berbagai penyakit yang mewabah di wilayah tersebut hingga akhirnya mereka oleskan kotoran tersebut ke mata mereka sendiri. Dan masih banyak peristiwa-peristiwa menakjubkan yang dialami oleh para Nabi sebagai mu’jizat yang diberikan Allah Swt. 

Disamping mu’jizat yang ada pada diri seluruh Nabi dan Rasul Allah, Allah juga membekali empat sifat yang pasti ada pada diri Rasul Allah, yakni sifat Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah. Semua sifat tersebut bertujuan untuk memuliakan Rasul-Rasul-Allah dan menjadikan pribadi Rasul Allah layak untuk diikuti sebab tidak mungkin dengan sifat tersebut para Rasul Allah melakukan maksiat, berdusta atau melakukan perbuatan dosa yang akan mengurangi kemuliaan derajatnya disisi Allah dan dimata umatnya. Disamping empat sifat tersebut, kepribadian para Rasul Allah juga merupakan pribadi yang ma’shum atau terjaga dari perbuatan dosa-dosa, sebab manusia diperintahkan untuk mengikut apa-apa yang dilakukan dan diajarkan oleh para Rasul. Sehingga, jika Rasulullah pernah lakukan kesalahan ataupun perbuatan dosa, tidak mungkin Allah memerintahkan kita mengikuti Rasulullah, sebab perintah tersebut memungkinkan kita mengikuti dosa-dosa yang dilakukan oleh para Rasul.

Diantara keistimewaan umum yang ada pada diri setiap Rasul, juga terdapat peristiwa dan keistimewaan yang terkhusus pada Rasul-Rasul tertentu sebagai petunjuk adanya kelebihan derajat salah seorang Rasul dibandingkan Rasul yang lainnya. Diantara keistimewaan tersebut ialah Peristiwa Isra’ Mi’rajyang terjadi para diri Nabi Muhammad Saw. sebuah peristiwa yang memberikan pelajaran yang sangat mendalam bagi umat manusia, serta menjadi berita baik sekaligus ujian bagi keimanan para pengikut Rasulullah Saw kala itu. Hal ini menunjukkan bahwa setiap peristiwa yang terjadi pada diri Rasulullah pasti memiliki makna yang mendalam sekecil apapun hal tersebut. Diantara makan yang tersurat dan tersirat dibalik peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw., ialah sebagai berikut : 

1. Usaha dan Tawakkal
 
Dakwah Rasulullah kepada kaum kafir Quraisy kota Makkah merupakan dakwah yang berat disebabkan pertentangan-pertentangan yang diberikan oleh para pendusta Rasulullah, bahkan dari kalangan keluarga terdekat seperti hujatan Abu Lahab yang tidak lain merupakan paman kandung Rasulullah sendiri. Dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi yang dilakukan Rasulullah merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh ditengah gempuran tekanan dari kaum kafir. Perkumpulan di rumah sahabat Arqam abil Arqam merupakan usaha yang dilakukan oleh Rasulullah untuk mengumpulkan kekuatan dan dukungan dari masyarakat Makkah yang beriman kepada Beliau disamping dukungan moril dan materil dari sang istri Sayyidatuna Khadijah dan Abu Thalib sang paman. 

Namun ujian bagi sang Rasul tidak berhenti sampai disitu, disaat gangguan dan tekanan kaum kafir Quraisy sedang meningkat, Rasulullah kembali diuji dengan meninggalnya sang istri Sayyidatuna Kadijah binti Khuwailid diikuti dengan meninggalnya sang paman, Abu Thallib pada tahun yang sama, tepatnya 3 tahun sebelum peristiwa hijrah ke kota Madinah. Setelah berita meniggalnya dua orang yang selama ini mencegah orang kafir mengganggu Rasulullah, maka orang kafir Quraisy pun dengan kegarangannya semakin berani mengganggu Rasulullah sampai melempari Rasul dengan tanah dan siksaan lainnya kepada pribadi Rasululah dan anak-anaknya. Melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan dan mengancam keselamatan umat islam, Rasulullah memutuskan untuk hijrah ke Tha’if dengan harapan ada sambutan baik untuk ajaran islam disana. Namun semua yang diharap tak seperti dugaan, masyarakat Tha’if bukan menyambut Rasulullah dengan suguhan layaknya seorang tamu mulia, melainkan disambut dengan lemparan batu hingga melukai Rasulullah Saw,. 

Usaha dan upaya Rasulullah tidak berbuah manis di Tha’if sehingga Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Makkah, sembari menyerahkan segala urusan kepada Allah dalam ungkapan berikut : 

اللهم اليك اشكوا ضعفتي وقلة حيلتي وهواني على الناس يا ارحم الراحمين, انت رب المستضعفين وانت ربي, الى من تكلني ؟ الي بعيد يتجهمني ام الى عدو ملكته امري ؟ ان لم يكن بك علي غضب فلا ابالي, ولكن عافيتك اوسع لي, اعوذ بنور وجهك الذي اشترقت له الظلمات وصلح عليه امر الدنيا والاخرة, ان تنزل بي غضبك او تحل علي سخطك, لك العتبى حتى ترضى ولا حول ولا قوة الا بالله
...
Artinya :
Ya Allah, hanya kepadamu aku serahkan kelemahan kekuatanku, dan sedikitnya upayaku dan hinanya aku dimata manusia wahai tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, engkau adalah tuhannya orang-orang yang lemah dan engkau adalah tuhanku, kepada siapakah aku ini engkau serahkan/utus ? apakah untuk orang yang jauh (Tha’if) yang aku minta perlindungan kepada mereka namun permusuhan yang aku dapatkan, atau untuk musuh-musuhku yang ada di makkah ini yang setiap urusanku sudah mereka kuasai ? asalkan engkau tidak murka kepadaku, aku tidak perduli, akan tetapi rahmatmu sangat luas bagiku, aku berlindung kepada nur Mu yang dapat menembus kegelapan (dari gelapnya hati manusia) untuk kemaslahatan urusan dunia dan akhirat, asalkan engkau tidak murka kepadaku, aku berserah diri kepadamu, yang aku tuntut adalah keridha’an Mu, karena aku tidak akan dapat mendatangkan kepada mereka manfaat tanpa seizinMu, dan mereka tidak dapat mendatangkan mudharat kepadaku tanpa seizin Mu. 

Do’a Rasulullah diatas menunjukkan besarnya tawakkal Rasulullah kepada Allah dengan segala penyerahan diri setelah upaya dan usaha yang dilakukan, kalimat yang menarik setelah berbagai ujian yang menimpa Rasulullah ialah ucapan “…Asalkan Engkau tidak murka padaku, maka aku tidak perduli, namun rahmatmu sungguh sangat luas kepadaku, Aku berlindung dengan Nur mu yang akan menerangi kegelapan hati manusia…”. Ini menunjukkan betapa besar harap Rasulullah dan penyerahan yang sesungguhnya kehadirat Allah Swt., untuk memberikan petunjuk dari berbagai ujian yang dialami Rasulullah Saw,. 

Do’a ini sontak dijawab Allah dengan terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw., yang terjadi pada malam 27 bulan Rajab. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa besar yang menunjukkan betapa Allah mengasihi Nabi Muhammad Saw., dengan menunjukkan sebagian dari kekuasaan Allah yang luar biasa dan tidak dapat dilogikakan oleh manusia. Hal ini juga menunjukkan betapa manusia bergantung pada karunia Allah, tidak ada usaha dan upaya yang memberikan manfaat kecuali atas izin dan kemurahan Allah Swt,. Sehingga setiap usaha yang dilaksanakan baik keterkaitannya dengan urusan dunia maupun akhirat harus diiringi dengan penyerahan diri (Tawakkal) kepada Allah Swt., sebagai wujud penghambaan yang sebenar-benarnya. 

2. Pembahasan Isra’ Menurut Al-Qur’an 
 
Para ulama tafsir telah menjelaskan dengan luas mengenai makna-makna peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw,. Hal ini merupakan interpretasi dari pemahaman terhadap ayat pertama surat al-Isra’ sebagai berikut : 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : 
Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami tunjukkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran kami, sesungguhnya Dia maka mendengar lagi maha melihat.

Surat al-Isra’ adalah surat makiyyah yang pada dasarnya berisi nilai-nilai ketauhidan yang urgensinya seperti urgensi surat-surat makiyyah lainnya yang berisi tentang dasar-dasar aqidah mengenai Keesaan Allah Swt., Risalah kenabian dan hari kebangkitan. Namun pada ayat pertama ini konsentrasi pembahasan ialah mengenai keistimewaan (Khususiyah) Nabi Muhammad Saw., sebagai Rasul terakhir. Ayat ini juga menunjukkan kebenaran ajaran Rasulullah Saw. 

Hal yang paling menonjol didalam ayat ini ialah peristiwa Isra’ Mi’raj yang merupakan mu’jizat Nabi Muhammad Saw,. Dan juga sebagai petunjuk ketidakmampuan akal logika manusia memahami seluruh kekuasaan dan perbuatan Allah Swt., terutama dalam membuat perkara-perkara yang Ajaib dan unik. 

Kalimat tasbih yang terdapat didalam ayat ini merupakan kalimat bermakna tanzih atau pernyataan kemahasucian Allah dari segala kekurangan dan keburukan yang mana sifat ini terkhusus hanya untuk Allah Swt,. Kalimat أَسْرَى memiliki makna “Memperjalankan” atau setara dengan makna “انتقل” yakni memindahkan Nabi Muhammad pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Secara logika, bagaimana mungkin perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dapat dilakukan hanya dalam waktu beberapa saat dimalam itu, padahal perjalanan normal membutuhkan waktu berbulan-bulan dengan unta. Inilah yang dituding sebagian kalangan yang menyatakan bahwa Isra’ Mi’raj Nabi hanya terjadi didalam mimpi. Padahal mereka keliru memahami makna lafaz ayat “Memperjalankan” bukan “Berjalan” dengan sendirinya. Sehingga dapat difahami bahwa Nabi Muhammad diperjalankan oleh Allah Swt., pada malam itu, bukan berjalan sendiri. 

Disamping itu, ketika peristiwa ini diceritakan oleh Rasulullah kepada kaum kafir Quraisy, mereka langsung menuding bahwa Nabi Muhammad sudah gila, dan berbagai tudingan lain. Seandainya peristiwa tersebut terjadi didalam mimpi atau Nabi berkata “Aku Bermimpi melakukan Isra’ mi’raj” maka sudah pasti kaum kafir tidak akan menuding yang tidak-tidak, sebab siapa yang bisa menolak mimpi ?

Inilah masalahnya, Allah yang maha suci telah menyediakan tentara untuk membela agama islam bahkan terkadang tentara yang dijadikan bukti itu tidak jarang melalui sebab orang kafir. Seperti contoh pendustaan orang kafir terhadap pengakuan Rasulullah, sebab kalau itu mimpi untuk apa didustakan orang kaafir pada masa itu. 

Mereka juga sering menggunakan dalil firman Allah Q.s al-Isra 60 sebagai berikut : 

وَمَاجَعَلْنَا الرُّؤْيَا الَّتِي أَرَيْنَاكَ إِلَّا فِتْنَةً لِلنَّاسِ

Artinya :
 ...dan tidaklah kami jadikan apa yang engkau lihat melainkan sebagai ujian bagi manusia
 
Menurut mereka, kalimat “Ru’ya” dalam ayat ini berarti pengelihatan didalam mimpi, bukan pengelihatan dalam sadar, sebab pengelihatan dalam sadar biasanya menggunakan kalimat masdar yakni “Ru’yatan”. Padahal, secara nalar jika dibaca kembali makna ayat ini, bagaimana mungkin mimpi bisa dijadikan ujian bagi manusia ? sedangkan lanjutan ayat menerangkan sebaagian mereka membenarkan dan sebagian lagi mendustakan. Apakah mungkin masih ada yang mendustakan mimpi ? seperti orang yang mengatakan “Tadi malam aku mimpi pergi ke London”, maka tidak akan ada orang yang mendustakan. Disisi lain, jika mereka menyatakan biasanya pengelihatan dalam sadar menggunakan kalimat “Ru’yatan” apakah perkataan al-Mutanabbi seorang ahli syair arab terbaik yang menggunakan “ru’ya” sebagai pengelihatan dengan kedua mata berikut ini dapat disalahkan : 

ورؤياك في العينين احلى من الغمض

Artinya : 
dan melihatmu dengan kedua mataku lebih nikmat daripada memejamkan mata…

Kemudian kalimat ليلا menggunakan lafaz tankir (Isim Nakirah) yang secara bahasa bermakna تقليل الساعة yakni sedikitnya waktu yang berlangsung selama peristiwa agung tersebut. Kalimat “lailan” ini bukan hanya serta merta memberikan isyarat bahwa Allah terikat waktu tertentu dalam memperjalankan Nabi Muhammad, namun hal ini memiliki makna betapa maha kuasanya Allah dalam memperjalankan Nabi Muhammad Saw., dan waktu yang sedikit itu tujuannya agar manusia memahami berapa lama waktu peristiwa itu,dan sebagai bukti bahwa pada malam hari ada waktu disaat Allah menurunkan rahmatnya kepada orang-orang yang beribadah kepada Allah, sebab Allah maha suci dari keterikatan terhadap waktu tertentu. 

Dengan demikian, hal ini menunjukkan keagungan peristiwa isra’ mi’raj yang dialami Rasulullah hanya dalam tempo beberapa menit dan diamali dengan ruh dan jasad bukan didalam mimpi.

3. Peraturan Yang Berlaku Bagi Sang Pencipta
 
Suatu pekerjaan yang dilakukan selalu menurut ukuran yang mengerjakan, artinya, jika manusia yang melakukan suatu pekerjaan, maka pekerjaan tersebut pasti masih dapat diterima oleh akal manusia lainnya. Namun, jika yang melakukan suatu pekerjaan adalah Allah Swt,. Maka tidak bisa sepenuhnya dinalar dengan logika manusia, melainkan harus diimani dan diyakini dengan keyakinan yang kuat tanpa ragu-ragu.
Umpamanya firman Allah سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِyang bermakna “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya”. Apa yang dilakukan oleh Allah ini tidak bisa ditimbang dengan logika fikir manusia yang kadarnya sangat terbatas, maka harus ditimbang dengan keyakinan dan ketauhidan yang benar. Sebuah perbandingan logika agaknya dapat menggunakan contoh berikut : 

“kemarin saya membawa anak saya yang masih balita mendaki gunung sibayak yang hanya memakan waktu 2 jam perjalanan kaki”
maka apakah cocok jika muncul pertanyaan “Bagaimana mungkin anak balita bisa mendaki gunung hanya dengan 2 jam perjalanan ?”. Begitu juga dengan peristiwa Isra’ Mi’raj menggunakan kalimat “Memperjalankan” bukan kalimat “Nabi Muhammad Berjalan sendiri”. 

4. Mengapa Disebutkan Lafaz Bi’abdihi Bukan Birasulihi Atau Bimuhammad 

Allah Swt,. Menggunakan lafaz ‘Abdun pada ayat tersebut bukan menggunakan kalimat “Rasulun” atau “Muhammad” disebabkan kalimat ‘abdun merupakan refleksi dari sebuah penghambaan yang mendalam sehingga penghambaan tersebut menjadi pintu datangnya Rahmat Allah Swt,. sebab Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk "Men“hamba" kepada Allah Swt,. 

Disamping itu, kalimat ‘Abdun ini juga menjadi bukti bahwa Rasulullah melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad, sebab tidak ada orang arab yang menggunakan kalimat ‘Abdun untuk menunjukkan salah satunya, yakni Ruh atau Jasad. 

5. Mengapa Peristiwa Isra’ Diceritakan Secara Explisit Didalam Al-Qur’an Sementara Mi’raj Tidak Demikian 
 
Peristiwa yang memungkinkan Rasul untuk menerangkan kepada penduduk bumi melalui dalil-dali bendawi oleh Alqur’an disebutkan secara tegas, sehingga tidak sulit untuk disampaikan kepada orang lain. Namunperistiwa yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia tidak disebutkan dengan tegas, inilah yang dimaksud ujian bagi keimanan manusia, maka jika ia beriman sudah barang tentu akan mengatakan : 

- Kalau Tuhan mampu menciptakan keadaan luar biasa terhadap peristiwa di bumi, maka akupun meyakini bahwa Dia mampu menciptakan segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh logikaku. 

- Adakah orang yang mengatakan Allah kesulitan untuk menciptakan keadaan luar biasa terhadap hukum alam yang berlaku bagi langit dan tidak kesulitan menciptakan keadaan luar biasa terhadap hukum alam yang berlaku bagi bumi ? 

- Bukankah mu’jizat yang diberikan Allah kepada para Rasul merupakan sesuatu yang luar biasayang tidak dapat dicapai oleh akal manusia ?
Berbeda halnya jika mereka tidak meyakini perkataan Rasulullah, maka sudah barang tentu akan muncul berbagai dalih pendustaan terhadap perkataan Rasulullah Saw,.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

4 PERTANYAAN

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِفَضْلِهِ وَكَرَمِهِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ بِمَشِيْئَتِهِ وَعَدْلِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَلَا شَبِيْهَ وَلَا مِثْلَ وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا حَدَّ وَلَا جُثَّةَ وَلَا أَعْضَاءَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَعَظِيْمَنَا وَقَائِدَنَا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلَّمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ . أَمَّابَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (سورة الحشر: ١٨ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْ...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...