Langsung ke konten utama

JANGAN SEMBARANG TAFSIR....!!!



JANGAN SEMBARANG TAFSIR....!!!


Ayat – ayat alqur’an terdiri dari dua bagian, diantaranya adalah ayat yang muhkamat dan mutasyabihat. Hal ini senada dengan firman Allah Swt, didalam Alqur’an surat ali Imran sebagai berikut :

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلُُّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ
Artinya :
Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (Q.s. Ali Imran 3:7)

Soal : Apakah yang dimaksud dengan ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat ? dan bagaimana contoh nya…

Jawab : Ayat Muhkamat adalah ayat yang jelas maksud dan tujuannya, misalnya seperti ayat
ليس كمثله شيء
ولم يكن له كفوا احد
Ayat –ayat Muhkamat merupakan ayat yang paling banyak didapati didalam Alqur’an. Bahkan termasuk ummul Qur’an dikategorikan sebagai ayat muhkamat. Sedangkan ayat yang Mutasyabihat merupakan ayat yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Salah satu contoh dari ayat mutasyabihat ini yaitu :
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
Artinya :
…Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik. dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. … (Q.s. Fathir : 10)

Didalam ayat ini dijelaskan bahwa “KepadaNya lah naik perkataan-perkataan yang baik. Dan Amal yang shaleh dinaikkannya. Secara zahir, ayat ini memunculkan indikasi bahwa adanya tempat bagi Allah Swt., yakni diatas. Disebabkan adanya kalimat naik pada ayat tersebut. Hal inilah yang sering difahami oleh kalangan yang hanya menggunakan zahir ayat dalam memahami Alqur’an. Wal-‘Iyazubillah.

Soal : lalu bagaimana jalan yang ditempuh oleh para ulama untuk memahami ayat mutasyabihat ?

Jawab : Dalam memahami ayat mutasyabihat, para ulama kalangan Ahlussunnah Wal-Jama’ah memiliki dua jalan yang apat ditempuh. Adapun kedua jalan tersebut yakni dengan menemput metode ta’wil dan tafwidh. Ta’wil yakni memindahkan satu makna kepada makna yang lain jika didapati kemungkinan makna zahir ayat mutasyabihat dapat merusak esensi ayat muhkamat. Umpamanya lafaz ayat كل شيء هالك الا وجهه. Kalimat “Wajhah” didalam ayat ini merupakan ayat mutasyabihat. Sehingga secara zahir dimaknai “segala sesuatu akan binasa kecuali wajah Nya”. Pemahaman demikian sugguh sangat berbahaya, disebabkan beberapa faktor sebagai berikut :
1. Jika kalimat wajhah tidak dita’wil, maka menimbulkan perngkaan bahwa Allah memiliki wajah, dan defenisi wajah merupakan satu bagian yang terletak dikepala manusia yang didalamnya terdapat mata, hidung, bibir dan lain sebagainya.
2. Jika kalimat ini tidak di ta’wil maka akan menimbulkan persangkaan bahwa hanya wajah Allah saja yang tidak binasa, adapun tangan dan lainnya akan binasa. Sebab di ayat lain terdapat kalimat يد الله.
3. Jika ayat tersebut tidak di ta’wil, maka akan menimbulkan persangkaan bahwa Allah memiliki organ yang sama seperti manusia atau makhluk pada umumnya. Padahal Aqidah kita Ahlussunnah wal-Jama’ah yang berpegang pada Imam Asy’Ari dan Al-Maturidi dengan tegas menyatakan bahwa “Mustahil Allah bersifat dengan sifat yang baharu (makhluk/ berubah-ubah)”
Untuk mengantisipasi hal ini, maka para ulama melakukan ta’wil terhadap ayat tersebut. Imam Al-Bukhari seorang imam Muhadditsin menyatakan bahwa kalimat Wajhah tersebut ditakwil dengan makna Mulkah (Kekuasaan Allah).
Metode kedua yang digunakan adalah metode tafwidh. Atau membiarkan makna ayat tersebut tanpa menterjemhkan atau mentakwilkannya. Dengan keyakinan bahwa “hanya Allah lah yang maha mengetahui maksud dari ayat tersebut”. Hal ini senada dengan ungkapan imam Syafi’i sebagai berikut :
ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله
Artinya :
“Aku beriman kepada apa-apa yang datang dari Allah dengan Makna yang dikehendaki Allah”

Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya ada dua metode dalam memahami ayat mutasyabihat sehingga maknanya tetap sejalan dengan ayat muhkamat. Yakni bagi orang yang memiliki ilmu yang cukup dan mumpuni maka boleh menempuh metode ta’wil. Namun bagi yang tidak mumpuni boleh menggunakan metode tafwidh. Tafwidh dngan jalan tidak menterjemahkan ayat tersebut. Bukan dengan jalan menterjemahkan kemudian mengatakan “tidak tau bagaimana” dan sebagainya.

Dalam hal ini sering sekali terdapat kekeliruan dikalangan umat islam, seperti kalangan Talafi (Salafi), yang mengatakan bahwa yang melakukan ta’wil adalah orang yang tersesat, sehingga pada kalimat يد الله mereka tetap mngartikan dengan tangan Allah, namun tidak mengetahui bagaimana tangan Allah. Hal ini pula yang ditentang oleh guru kami Kyai Muhammad Syafi’i Umar Lubis dan Syaikh Muhammad Husni Ginting, beserta ulama Ahlussunnah wa-jama’ah lainnya. Sebab, mengartikan kalimat يد dengan “tangan” sudah cukup menimbulkan gambaran di fikiran manusia akan bagian tubuh yang letaknya diatas dan memiliki lima jari, sebab jika letaknya dibagian bawah, itu disebut kaki. Padahal Syaikh ‘Abdullah Al-Harari didalam syarh Aqidah at-Thahawi menyatakan bahwa :
مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذالك
Artinya :
Seketika tergambar oleh akalmu mengenai bentuk Allah, maka Allah berbeda dengan gambaran itu.

Soal : lalu bagaimana dengan ungkapan sebagian kalangan bahwa Ta’wil yang dilakukan pada ayat mutasyabihat sama halnya dengan Ta’thil yang dilarang dalam agama ?

Jawab : Perlu dipahami bahwa Ta’wil jauh berbeda dengan Ta’thil. Ta’wil adalah memindahkan makna ayat mutasyabihat agar tetap selaras dengan ayat muhkamat. Sedangkan Ta’thil yakni memindahkan makna ayat agar selaras dengan hawa nafsu atau akal fikiran. Disamping itu, tindakan ta’thil merupakan kebiasaan orang orang Mu’tazilah, atau sekarang sering dikenal dengan kalangan Liberal / Sekuler. Maka jika dilihat, kaum liberal sangan suka mengomentari ayat Alqur’an sekehendak nafsu dan akalnya. Sebab dihatinya ada keinginan memperbuat fitnah dengan mengatasnamakan Alqur’an. Inilah yang dimaksud oleh Ayat 7 Surat Ali Imran diatas. Wallahu A’lam.
Semoga bermanfa’at...

Baca Juga :http://muhammadopik.blogspot.co.id/search?updated-max=2014-11-26T16:55:00-08:00&max-results=7

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...