Langsung ke konten utama

DONGENG-DONGENG SETAN DAN ORANG ‘ALIM




Selamat malam, mungkin malam ini menjadi malam yang indah bagi sebagian orang, dan bisa saja menjadi malam yang tak berarti bagi yang lain. Malam ini aku mau mengangkat sebuah tema pembahasan (Baca:Cerita-cerita) tentang sesuatu yang mungkin akan bermanfaat bagi diri pribadi, dan tentunya jangan sampai menjadi bumerang buat semua orang.

Tema yang aku ambil malam ini (Baca: Siang)[1] tentang “Dongeng-Dongeng Setan dan Orang ‘Alim”. Mungkin judul ini agak kontroversial sehingga bisa buat orang lain mikir yang macem-macem tentang tulisan ini atau bahkan tentang penulis sendiri. Terlepas dari semua itu, tulisan ini hanya sebagai refleksi dari kitab Maraqil ‘Ubudiyyah karangan Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi(Baca: Al-Bantani)[2] yang merupakan penjabaran dari kitab Bidayatul Hidayah karangan al-Imam al-Ghazali Rahimahullah.

Kenapa aku angkat judul ini ? barangkali ada yang nanya. Mungkin diawali dari pemahaman pribadi yang apa adanya, dengan harapan tulisan ini diminati oleh orang-orang supaya pesan didalamnya bisa tersampaikan. Mungkin kalian pernah dengan istilah al-Akhsariin (Baca: orang-orang yang merugi) ? yang sepanjang hidupnya Cuma berkutat didalam tipuan dan godaan-godaan setan ?. perlu diketahui juga, bahwa setan itu bukan hanya menggoda manusia kepada hal-hal yang buruk pada zahirnya[3], malahan setan lebih sering ngegoda dengan cara mengajak orang berbuat baik namun dengan niatan yang buruk.

Ini tentang seorang penuntut ilmu, jadi dalam tulisan ini khusus membahas orang ‘alim yang ketipu dengan ilmunya sendiri akibat keseringan didongengin sama setan. Ih,, ngeri juga ya... jaman sekarang setan udah modern... profesinya jadi tukang dongeng.

Pada dasarnya, banyak orang ‘alim atau orang yang menuntut ilmu dengan mengandalkan semangatnya, maksud semangat disini bukan dalam makna umum, namun dalam pengertian “Nafsu al-Ammaarah” simpel nya kebanyakan orang yang menuntut ilmu dengan nafsu ini cenderung mengedepankan menuntut ilmu disertai dengan berbagai fadhilah-fadhilah ilmu yang dengan fadhilah atau keutamaan tersebut dia lupa, sebenarnya kenapa harus menuntut ilmu. Kesalahan terbesar kita ialah menganggap bahwa setan itu hanya berdalil dengan “asyiknya berzina, kaya dengan mencuri, atau bahagia dengan nipuin orang walau dengan topeng bantuin orang” dan lain sebagainya. Setan juga mampu berdalil dalam menggoda manusia, artinya, ketika yang digoda adalah orang ‘alim, maka setan akan memanfaatkan sebagian ilmu orang tersebut untuk membuatnya lupa dengan ilmu yang lain. Gimana bisa ? ya bisa aja, dengan cara mendongeng orang ‘alim. Inilah yang penuntut ilmu sering lupakan.

Jadi, terkadang kebanyakan orang yang menuntut ilmu bukan didasari keta’atan pada Allah, namun didasari keta’atan pada setan (disebabkan nuntut ilmu dengan nafsu ammarah bi al-Suuuk....!!!) berikut dialog nya :

Setan:

lim (Baca: Orang ‘Alim) gimana lo hari ni udah ngaji belum ?

Lim :

belum tan, ya ngapai juga gua ngaji, hidup gua gini-gini aja kok.

Setan:

ah, bego amat lo. Lo tau gak kalo orang yang nuntut ilmu itu derajatnya bisa lebih tinggi dibanding orang kayak elu sekarang ?

Lim:

Enggak, emang gimana ? siapa yang bilang gitu ?

Setan:

yeee yang bilang mah Rasulullah, ini sabdanya “Memandang orang ‘Alim lebih disukai dibandingkan beribadah puasa dan qiyamullai nya selama satu tahun.

Lim:

Wih, serius lo ?

Setan:

laaah. Lu gak percaya sama gua, ni nih, liat kitab hadis “ Keutamaan orang ‘alim dibandingkan orang ‘Abid tujuh puluh derajat yang setiap derajatnya seperti jarak antara langit dan bumi.

Lim:

terus-terus .... ?

Setan:

dan lu tau gak, “Barang siapa yang Tidak bersedih atas kematian orang ‘Alim, maka ia seperti orang munafiq, karena tidak ada musibah yang lebih besar dibandingkan kematian orang ‘alim.

Lim:

terus inti permasalahannya apa ?

Setan:

Rasul Bersabda “Amal yang sedikit namun dilakukan oleh orang ‘Alim jauh lebih baik dibandingkan amal yang banyak namun dilakukan oleh orang bodoh”.

Lim:

ya –ya ya.... gua faham sekarang, kalo gitu jadi orang ‘alim aja udah cukup hebat. Tanpa beramal pun bakal dapat kemuliaan disisi Allah. Lumayan juga dongeng lu Tan, bisa jadi bahan ceramah gua nter malam sama ibuk ibuk yasinan. Dari pada gua mesti ibadah ini dan itu, mending gua ngaji aja, ibadah seadanya juga gak jadi ukuran, soalnya gua kan orang ‘alim, semua orang bakal hormat sama gua. Hahahaha.... Makasih Tan, lo memang pendongeng yang baik (Baca: loh ??)

Inti dari dongeng diatas adalah, bahwa setan akan selalu menggoda manusia bukan hanya untuk berbuat buruk, namun ia juga akan berusaha menggoda orang-orang untuk berbuat baik pada zahirnya, namun buruk pada bathinnya. Dia akan berusaha menghembuskan angin segar akan keutamaan ilmu sehingga menyebabkan sang penuntut ilmu lupa, untuk apa ia menuntut ilmu. Sebab Rasulullah Saw., bersabda : “Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak kunjug bertambah hidayah didalam dirinya, maka tidak lah ia dan Allah bertambah, melainkan bertambah jauh”. Dan sabda Rasulullah : “Seburuk-buruk azab yang akan menimpa manusia dihari kiamat adalah azab bagi orang yang berilmu tapi ilmu itu tidak bermanfaat bagi dirinya”.

Maka hendaknya ketika menuntut ilmu. Niatkan suapa bisa lebih baik dalam beramal, sebab keseimbangan antara keduanya akan membawa manusia pada pintu gerbang yang dinamakan “Bidaayatul Hidaayah” atau gerbang pertama dalam perjalanan mendapatkan hidayah Allah Swt. jangan sampai ilmu yang dituntut dengan harapan mendapat ridho Allah Swt., justru malam menjadi bumerang yang membuat kita lupa apa dan mengapa kita dituntut agar menimba ilmu dengan berbagai fadhilah dan keutamaan yang dijanjikan Rasulullah. Terakhir, Dua orang yang tidak akan pernah merasa puas “Ahli Ilmu dengan ilmunya, dan ahli dunia dengan dunianya”

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, jika ada persepsi pembaca mengatakan “Penulis juga kayak gitu” (Baca: kayak orang yang didongengin setan) maka itu benar adanya. Semoga kedepannya kita semakin baik, dan diampuni Allah semua salah dan khilaf, semakin rajin beribadah, rajin menuntut ilmu, diberi tambahan rezeki dan kesehatan. Aamiin...

#SaveHatimu

Kunjungi Juga Blog Lama Saya : muhammadopik.blogspot.com

[1] Karena nulisnya siang-siang tapi postingnya malem... hehehe

[2] Sering disebut orang dengan nama SyeilhbNawawi al-Bantani. Menurut informasinya beliau dan keluarga sempat mengalami kejaran-kejaran aliran Wahabi Makkah hingga terpaksa harus meninggalkan tempat tinggal di Makkah. Keturunan beliau masih ada di Indonesia, dan beliau juga merupakan Ulama Indonesia yang karangannnya berbahasa Arab dengan pendekatan pemahaman yang bisa diterima semua kalangan. Semoga Allah membukakan jalan agar kita senantiasa dekat dengan Ulama, bisa menjadi orang ‘Alim dan tentunya bukan orang ‘Alim yang dijadiin dongeng sama setan.

[3] Sebab kalau yang zahirnya buruk, itu sudah biasa, namanya juga menggoda ya biasanya kepada hal buruk. hehehe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...