Langsung ke konten utama

FIQIH LINTAS RAMADHAN





FIQIH LINTAS RAMADHAN 1 

Oleh : Muhammad Taufiq, SH 

Hai Orang-Orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa (Qs. Al-Baqarah 183) 

1. Defenisi Puasa 

Puasa menurut bahasa adalah "الامساك" yang artinya menahan diri dari segala sesuatu. Berdasarkan pengertian bahasa ini, maka menahan dari bicara pun termasuk dalam kategori puasa, sebagaiman firman Allah Swt,. 

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا (مريم : 26

Artinya : Sesungguhnya aku bernazar kepada Allah untuk berpuasa (Baca: Menahan diri dari bicara) (Q.s Maryam 26) 

Ayat diatas menceritakan tentang kisah Sayyidah Maryam yang bernazar untuk diam dalam menghadapi fitnah yang dituturkan oleh masyarakat sekitarnya ketika mengandung Nabi Isa ‘Alaihissalam. 

Adapun menurut Syara’, Puasa memiliki mana “Menahan diri[1] dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan niat tertentu mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari”. 

2. Landasan hukum Wajib Berpuasa 

Puasa pertama kali diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijrahnya Nabi Muhammad Saw,. dari Makkah ke Madinah. Seorang muslim diwajibkan berpuasa berdasarkan Ayat Al-Qur’an Surat Al-Bahaqah ayat 183 yakni : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة : 183 

Hai Orang-Orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa (Qs. Al-Baqarah 183). 

Ayat Al-Qur’an ini menjelaskan dengan gambling bahwasanya puasa diwajibkan bagi setiap muslim yang memenuhi persyaratan. Sebab salah satu sighat Amar (lafaz yang menyatakan wajib melaksanakan sesuatu) adalah kalimat “كتب”. Orang yang mengingkari kewajiban berpuasa, misalnya mengatakan “Puasa tidak wajib” maka dihukumi keluar dari Islam, berbeda dengan orang yang sengaja meninggalkan puasa maka tetap dianggap beriman namun berma’shiyat (mu’minun ‘Ashiy). 

3. Cara Penetapan Awal Bulan Ramadhan 

Karena jumlah hari pada perhitungan bulan Hijriyah antara rentang 29 atau 30 hari, bahkan selama hidupnya Rasulullah hanya satu kali mendapatkan Ramadhan 30 hari penuh, selebihnya hanya berjumlah 29 hari. Oleh sebab itu untuk penetapan awal dan akhirnya mesti dilakukan melalui Ru’yat Hilal, untuk mengantisipasi keragu-raguan apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum. Landasan hukum penetapan awal bulan Ramadhan ini adalah firman Allah Q.s Al-Baqarah 185 sebagai berikut : 

…فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ… (البقرة : 185 

Artinya : … Maka barangsiapa yang melihat Hilal Ramadhan, hendaklah ia berpuasa… (Q.s Al-Baqarah : 185) 

Adapun hitungan bulan dengan metode hisab (perhitungan matematis) hanya membantu menentukan perkiraan kemunculan hilal saja. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi Muhammad Saw,. dari Abu Hurairah berikut ini : 

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ (رواه البخاري رقم 1909 ج.3 ص.27 

Artinya : Puasalah kamu karena telah melihat hilal dan berbukalah (berhari rayalah) karena telah melihat hilal, apabila hilal tertutup awan maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban (demikian juga Ramadhan) 30 hari. (HR. Al-Bukhari no. 1909 Juz. 3 hal. 27). 

Oleh sebab itu, untuk menghindari perbedaan pendapat maka alangkah baiknya mengikut pada ketetapan Kementerian Agama RI, karena Team nya setiap Bulan melakukan Hisab Ru’yat diwilayah masing-masing. 

Beberapa Masalah 

  1. Para ulama menjelasakan bahwa awal bulan Ramadhan dapat diketahui dengan dua jalan, Pertama dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban 30 hari. Kedua dengan melihat hilal bulan Ramadhan setelah terbenam matahari pada tanggal 29 Sya’ban. Orang yang melihat hilal sebaiknya adalah orang yang ‘adil dan kesaksiannya dapat diterima dengan mengatakan “Aku Bersaksi bahwa aku telah melihat hilal”. Dengan syarat yang bersaksi langsung melihat hilal, tidak diperantarai oleh orang lain. 
  2. Apabila telah ditetapkan akan tampaknya hilal disuatu wilayah, maka munculnya hilal diwilayah tersebut dapat mewakili hilal di wilayah lain yang masih satu Negara, meskipun jauh, jika masih sama waktu terbit mataharinya. 
  3. Jika diteliti lebih lanjut dari dua metode menentukan awal Ramadhan diatas, dapat dikembangkan menjadi beberapa metode yang terkait, diantaranya Pertama : Menyempurnakan bilangan bulan sya’ban 30 hari, Kedua : Melihat Hilal Bulan Ramadhan, Ketiga : Khabar Mutawattir dari yang melihat hilal, walaupun dari orang kafir. Keempat : Kesaksian dari seorang yang melihat hilal. Kelima : Berdasarkan hukum hakim (Kementerian Agama) yang mampu berijtihad. Keenam: Khabar dari Ahli Hisab, khusus masalah ini, wajib diikuti oleh si ahli hisab dan orang yang meyakini hisab saja. 
  4. Apabila terjadi perbedaan hasil antara hisab dan ru’yat, maka yang wajib diamalkan adalah berdasarkan hasil ru’yat, bukan Hisab. 
  5. Apabila seorang wanita, budak, orang fasiq melihat hilal secara langsung, maka mereka wajib melaksanakan puasa berdasarkan hasil ru’yatnya jika diyakini kebenarannya oleh pribadi masing-masing. 

Bersambung…. !!! 












[1] Maksudnya adalah orang yang wajib melaksanakan puasa, pembahasannya akan diterakan pada kajian Syarat Wajib Puasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...