Langsung ke konten utama

ILMU DAN URGENSI SANAD DALAM TRADISI INTELEKTUAL ISLAM


Tradisi keilmuan Islam memiliki banyak keistimewaan dibandingkan tradisi keilmuan Agama lain. Diatara keistimewaan tersebut ialah adanya tradisi pemberian sanad dari guru kepada murid berkaitan dengan ilmu yang dipelajari. “Sanad” secara etimologi berasal dari kata dasar sanada, yasnudu(يسند سند), artinya: “sandaran” atau “tempat bersandar” atau “ tempat berpegang” atau berarti “yang dipercaya” atau "yang sah”.(Ibnu Mundzir, Lisan al’Arab, Juz: VII,hal: 85). Adapun secara istilah, Sanad ialah silsilah matarantai orang-orang yang menyampaikan pada matan atau ilmu. (Thahan, Tasyiir Mushtalahul Hadist, hal: 16). Sanad merupakan salah satu upaya agar ilmu Islam tetap terjaga kemurnian dan pemahamannya dari perkara-perkara yang merusak ilmu itu sendiri. Habib Jindan Bin Novel dalam salah satu majelisnya menjelaskan bahwa setidaknya sanad dalam tradisi keilmuan Islam dibagi kepada dua kategori, yakni sanad kitab dan sanad pemahaman. Sanad kitab ialah sanad yang menghubungkan seseorang kepada sebuah kitab, misalnya sanad kitab At-Tibyan karangan Imam an-Nawawi. Sedangkan sanad pemahaman ialah silsilah yang menghubungkan seseorang yang mempelajari suatu ilmu agar pemahaman terhadap ilmu tersebut sama dengan pengarang kitab atau pencetus ilmu terkait. Dengan demikian seseorang belum boleh mengajarkan kitab atau ilmu tertentu kepada orang lain sebelum mendapat sanad pemahaman dari guru yang memiliki silsilah atau belajar kepada pengarang sebuah kitab tertentu. 

Sanad dalam kaitannya dengan pemeliharaan pemahaman Agama merupakan representasi dari riwayat Imam Ibnu Al-Mubarak. Riwayat tersebut kemudian dinukil oleh Imam Muslim didalam muqaddimah Sahih Muslim, beliau mengatakan,“Sanad itu bagian dari Agama, kalaulah tidak dengan sanad maka siapapun akan berkata sesuka hatinya” (Sahih Muslim, Juz I. h.15). Ungkapan ini merupakan penguat bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, sanad memiliki urgensi yang sangat penting, karena dengan adanya sanad maka pemahaman mengenai ilmu-ilmu Agama akan tetap sesuai dengan sumbernya. 

Lebih lanjut Sayyid Alwi As-Saqqaf didalam Fawaid al-Makiyyah menjelaskan bahwa, dalam pemberian sanad pemahaman maupun sanad kitab, setidaknya ada empat cara yang biasa digunakan para ulama. Diantaranya yakni, (1) Pemberian sanad dari khusus kepada umum. Misalnya, Saya ijazahkan kepada seluruh mahasiswa UNIDA sanad kitab Tuhfatul Murid karangan imam Al-Baijuri. (2) Pemberian sanad dari umum kepada umum. Misalnya, Saya Ijazahkan sanad seluruh kitab karangan Syaikh Nawawi Banten kepada seluruh mahasiswa UNIDA. (3) Pemberian sanad dari khusus kepada khusus. Misalnya, Saya Ijazahkan kepadamu Ahmad kitab Sabilal Muhtadin karangan Syaikh Arsyad Al-Banjari. (4) Pemberian sanad dari umum kepada khusus. Misalnya, Saya ijazahkan kepadamu Ahmad, seluruh kitab karangan Syaikh Nuruddin Al-Banjari”. Dari beberapa cara pemberian sanad diatas jika diurutkan, pemberian sanad yang paling kuat ialah dari khusus kepada khusus, umum kepada khusus, khusus kepada umum dan umum kepada umum. 

Salah satu cara para ulama menjaga ilmu adalah dengan memperkuat sanad. Artinya, tidak menutup kemungkinan seorang ulama memiliki puluhan sanad yang berbeda untuk satu kitab sekaligus pemahamannya. Hal ini terus berlangsung hingga saat ini didalam multaqo dan majelis ilmu baik di Nusantara maupun di berbagai Negara di Dunia, dan selama tradisi ini tetap terjaga, maka kualitas keilmuan seseorang akan teruji dan memiliki landasan yang kuat. Inilah mengapa otoritas keilmuan para ulama terahulu masih terus terjaga, karena masih saja ada murid dan ahli sanad yang memeliharanya. 

Tradisi semacam ini di era modern telah mendapat tantangan dan hambatan besar. Tidak banyak generasi muslim yang tertarik meneruskan tradisi ini. Alhasil, kebanyakan dari pemuda muslim tidak mengetahui dari mana ia mendapatkan suatu ilmu dengan jelas. Maka bukan hal yang mengherankan jika banyak generasi muda yang keilmuannya tidak membawa berkah, sebagaimana perkataan Imam Ibnu al-Mubarak diatas “Siapapun akan mengatakan apa yang dia kehendaki”, alhasil, kualitas ilmu generasi muda sudah sangat jauh dari kriteria otoritatif. Sama halnya dengan hadits Nabi Saw,. Jika sanadnya tidak jelas, maka kualitas hadits itu bisa menjadi dha’if bahkan maudhu’, meskipun hadits yang diriwayatkan benar-benar bersumber dari Rasulullah Saw,. 

Meskipun demikian, generasi intelektual muda harus kembali membangkitkan tradisi keilmuan bersanad dimanapun ia belajar. Hal ini demi tujuan mulia menjaga otentisitas keilmuan Islam agar terjaga dari fitnah dan tudingan, baik dari dalam maupun luar Islam. Perkembangan kajian-kajian pemikiran Barat yang semakin hari terus meresahkan, tampaknya melalaikan generasi muda untuk mempertahankan peradabannya sendiri, padahal disamping pengkajian yang bertujuan mengkounter pemikiran Barat, umat Islam juga perlu didekatkan dengan tradisi turath, tradisi sanad, multaqo fiqih, hadis, tauhid dan lainnya dengan menerapkan sistem yang beradab. Senada dengan ungkapan Syed Naquib Al-Attas, bahwa hilangnya identitas peradaban Islam disebabkan pudarnya Adab dalam diri setiap muslim. Adab dalam hal ini, sebagaimana diungkapkan oleh imam Al-Ghazali didalam Ihya’ ‘Ulumuddin yang meliputi adab kepada diri sendiri, guru, lingkungan dan adab kepada ilmu. Jika salah satu pondasi adab ini hilang, maka berkurang pula kualitas dan otoritas keilmuan seseorang. 

Jika ditelusuri sejarah Imam Al-Ghazali, seorang Sufi sekaligus Filosof masyhur di dunia Internasional ternyata mendirikan dua madrasah di kediamannya, yakni madrasah Sufi dan madrasah Intelektual. Madrasah sufi diperuntukkan bagi ahli ibadah yang mengkhususkan diri untuh beribadah dan mendalami ilmu pensucian hati. Adapun madrasah intelktual diperuntukkan untuk orang-orang yang mendalami berbagai kajian keimuan Islam, ilmu alat, filsafat, kalam, dan lain sebagainya. Tindakan imam Al-Ghazali setidaknya memberikan dua pelajaran bagi generasi sesudahnya, pertama, tradisi intelektual harus tetap seimbang antara ilmu intelektual dengan penanaman ilmu tasawuf. Kedua, seorang intelektual muslim selain mumpuni dalam ilmu fardhu ‘Ain, juga harus menguasai Ilmu Fardu Kifayah agar dalam jiwa setiap muslim ada keseimbangan yang sulit digoyahkan musuh-musuh Islam. 

Akhirnya, berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa umat Islam hari ini berada ditengah berbagai macam tantangan dalam menjalani kehidupan berAgama. Artinya, umat Islam harus menyiapkan genrasi-generasi yang berkompeten dalam menghadapi berbagai tantangan tesebut dengan menghidupkan kembali tradisi keilmuan sebagaimana yang dilakukan para ulama terdahulu. Menciptakan keseimbangan dan menghilangkan berbagai dikotomi ilmu yang melemahkan intelektual genrasi muslim. Jika pada masa para ulama terdahulu, peradaban Islam berkembang pesat meskipun teknologi sangat minim, maka hari ini sudah saatnya umat Islam kembali bangkit, memanfaatkan berbagai fasilitas untuk menunjang kebangkitan peradaban Islam yang bergengsi, intelek, dan bermartabat. Wallahu A’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian dan Evaluasi Diri

S etiap dari kita pasti pernah merasakan ujian dalam hidup. Baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, masalah kesehatan, hingga konflik dalam hubungan sosial. Ujian ini adalah sebuah kemestian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an, "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian adalah bagian dari proses untuk meningkatkan kualitas diri, membentuk karakter, dan menguatkan iman kita kepada Allah SWT. Ujian Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Diri Ujian yang kita hadapi, apapun bentuknya, adalah bagian dari perjalanan hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas diri kita. Sebagaimana besi yang dipanaskan untuk menjadi lebih kuat, manusia pun diuji agar menjadi lebih baik. Tanpa ujian, kita mungkin tidak akan tahu sejauh mana keteguhan iman kita, seberapa besar kesabaran kita, atau seb...

Memahami Sebuah Ketiadaan

"Allah Mendidikmu dengan Ketiadaan, Agar Engkau Menyadari Betapa Berharganya Sebuah Pemberian " Dalam kehidupan ini, setiap insan pasti pernah merasakan kekurangan, ketiadaan, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Di saat-saat seperti ini, kita sering kali bertanya-tanya, mengapa Allah membiarkan kita merasakan kesulitan ini? Apakah ini sebuah ujian, hukuman, atau mungkin pelajaran yang tersembunyi?  Rezeki Allah dan Hakikat Ketiadaan Salah satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi. Kesehatan, waktu, ilmu, ketenangan hati, dan bahkan kesempatan untuk bertaubat adalah rezeki yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika Allah menahan sebagian dari rezeki tersebut, baik itu dalam bentuk harta, kesehatan, atau lainnya, hal itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita. Sebaliknya, bisa jadi Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasakan betapa berharganya sebuah pemberian. Dalam ketiadaa...

KERANCUAN STUDI ALQUR’AN ALA BARAT

Menyingkap kekacauan berfikir Kaum Liberal Tidak ada kitab suci yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan begitu penting perannya dalam sejarah peradaban manusia selain Al-Qur’an. Dari abad ke abad, kitab suci ini telah menjadi sumber inspirasi para penuntut ilmu, pemburu hikmah dan pencari hidayah. Para pujangga bertekuk lutut dihadapannya, para Ulama tak habis-habis membahasnya. Al-Qur’an-lah satu-satunya kitab suci yang menyatakan bahwa dirinya bersih dari keraguan (la rayba fihi), dijamin keseluruhan isinya (wa inna lahu lahafizun), dan tidak akan mungkin dibuat tandingannya (Laa ya’tuuna Bimitslihi). Ia ibarat kompas pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana lentera penerang jalan. Barangkali keistimewaan inilah yang membuat para Orientalis (Orang yang mengkaji Islam dengan Ideologi Barat), Non-Muslim, Yahudi,Liberal dan Kristen menjadi iri dan dengki sehingga berupaya merusak nilai-nilai al-Qur’an.  Soal : Bagaimana Kedudukan Al-Qur’an dimata kau...